Properti

Harga Bahan Konstruksi Mulai Naik, Pengembang Belum Mau Menaikkan Harga Properti

Dari beberapa industri properti yang cukup tertekan terhadap melemahnya rupiah yakni perumahan.

Harga Bahan Konstruksi Mulai Naik, Pengembang Belum Mau Menaikkan Harga Properti
www.shutterstock.com
Ilustrasi 

Laporan Wartawan tribunpekanbaru.com, Hendri Gusmulyadi

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kondisi pelemahan rupiah yang terus bergejolak sejak beberapa bulan terakhir, berdampak langsung terhadap beberapa industri di tanah air, tak terkecuali di Riau.

Salah satu sektor yang paling terganggu akan kondisi ini yakni porperti, beberapa jenis bahan baku harga modalnya ikut naik, karena rata-rata yang digunakan untuk pembangunan aset properti adalah bahan baku yang berasal dari luar negeri, yang harganya juga menyesuaikan harga luar negeri.

Dari beberapa industri properti yang cukup tertekan terhadap melemahnya rupiah yakni perumahan. Pengembang harus mengeluarkan modal lebih untuk pembelian bahan baku.

Baca: Gubernur Terpilih Syamsuar dan Kepala Daerah di Riau Deklarasi Dukung Jokowi-Maruf Amin

Salah satu pengembang perumahan di Pekanbaru mengaku, untuk biaya pembangunan rumah saat ini, mau tidak mau harus bertambah mengingat sejumlah bahan konstruksi harganya ikut naik.

"Bahan konstruksi seperti besi harganya sudah mulai naik, kalau semen itu masih standar. Kalau besi itu naiknya ada sekitar 20 persen dari biasanya," ujar Manager Maketing PT Afista Properti Indoraya, Safar J Tanjung, Rabu (10/10/2018).

Ia menyebut, meski beberapa bahan konsturksi naik, di pihaknya sendiri masih diuntung dengan masih tersedianya stok bahan konstruksi lama di toko bangunan yang sudah menjadi langganan.

"Tapi kalau bahan kita yang butuhkan adalah bahan yang baru masuk, itu mau tak mau harus menyesuaikan dengan harga terbaru," katanya.

Baca: Hasil PSS Sleman Vs PSIM Yogyakarta Pekan 21 Liga 2 2018, Skor 3-0 di Babak Pertama

Pria yang akrab disapa Tanjung ini menyebutkan, kesulitan yang dialami pengembang saat ini yaitu penetapan harga rumah yang sesuai dengan daya beli masyarakat.

Di kondisi seperti sekarang ini, masyarakat yang membeli rumah tidak merasa keberatan dengan harga yang ditetapkan, dan pengembang pun tetap mendapatkan untung dari rumah yang mereka jual.

"Tapi sampai sejauh ini kita masih menjual rumah dengan harga lama meski modal naik. Kita belum berani menaikkan harga rumah karena daya beli masyarakat saat ini juga lagi menurun. Yang jelas kita maunya harga bahan baku itu stabil, tak begitu memberatkan," terangnya. (*)

Penulis: Hendri Gusmulyadi
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved