Eksklusif

Warga 65 Desa di Kepulauan Meranti Andalkan Air Hujan untuk Masak. Air Sumur Merah dan Asam

Warga 65 Desa di Kepulauan Meranti Andalkan Air Hujan untuk Masak. Air Sumur Merah dan Asam

Biasanya tiga tempayan dan satu tangki air milik Murni mampu memenuhi kebutuhan makan dan minum keluarganya selama dua bulan.

Murni mengaku pernah kehabisan persediaan air bersih pada musim kemarau beberapa bulan lalu.

Jika persediaan air bersih di tangki dan tempayan miliknya habis, ia terpaksa membeli air galon isi ulang dengan harga Rp 6 ribu per galonnya.

"Memasuki pertengahan tahun 2018 kan jarang hujan, bahkan cuaca sering panas. Akibatnya, persediaan air habis. Terpaksa beli air galon isi ulang," ujarnya.

Sebenarnya air sumur tanah di belakang rumah ibu lima anak ini tak pernah mengering meski di musim kemarau.

Namun, air sumurnya tak bisa dikonsumsi.

Murni mengatakan, air sumur di rumahnya bewarna kemerahan, mirip warna air teh.

Meskipun awalnya berasa tawar, rasanya akan berubah agak kelat dan sedikit asam jika dimasak.

"Air tanah redang (air gambut, red) tak cocok untuk dimasak, agak asam dan kelat. Hanya untuk mandi dan mencuci saja," ujar Murni.

Hal itu juga diungkapkan Suci, warga Jalan Sumber Sari, Kelurahan Selatpanjang Timur lainnya.

Halaman
1234
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved