Eksklusif

Warga Tempuling Inhil Terpaksa Konsumsi Air Sungai. PDAM Tirta Indragiri Belum Bisa Olah Air Laut

Warga Tempuling Inhil Terpaksa Konsumsi Air Sungai. PDAM Tirta Indragiri Belum Bisa Olah Air Laut

Warga Tempuling Inhil Terpaksa Konsumsi Air Sungai. PDAM Tirta Indragiri Belum Bisa Olah Air Laut
Ist
Sekretaris Daerah Provinsi Riau Ahmad Hijazi didampingi Kabid Bina marga Kabupaten Inhil, UPT PUPR Pemprov Riau, Staf Camat Tempuling, dan sejumlah Kades tinjau kondisi jembatan amblas di jalan penghubung Desa Mumpa dan Teluk Kiambang Sabtu (17/2/2018). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kesulitan air bersih pun dialami warga di pesisir, seperti di Indragiri Hilir dan Dumai.

Di Inhil, air bersih bisa dibilang suatu hal yang sangat berharga bagi masyarakat di Negeri Seribu Parit ini.

Kondisi air yang payau, bewarna, dan kadang berbau dan bercampur lumpur, menjadi pemandangan sehari-hari.

Air Sungai Indragiri ini menjadi andalan masyarakat sehari-hari.

Seperti diakui Jumarni, warga Desa Mumpa, Kecamatan Tempuling.

Baca: Warga 65 Desa di Kepulauan Meranti Andalkan Air Hujan untuk Masak. Air Sumur Merah dan Asam

Baca: Pendaftaran CPNS 2018 Ditutup Pukul 23.59 WIB,Pengumuman Seleksi Administrasi 21 Oktober 2018

Baca: Zodiak Senin 15 Oktober 2018, Aquarius Bicarakan dari Hati ke Hati, Libra Jadilah Diri Sendiri

"Dari dulu air itulah (air sungai, red)) yang kami konsumsi. Sebenarnya tidak layak diminum, cuma karena kebiasaan dari dulu dan untuk mendapatkan air yang sangat bersih itu sulit, makanya air sungai itu yang kami konsumsi," ujar Jumrani kepada Tribunpekanbaru.com, Jumat (12/10/2018).

Ajib, warga Desa Teluk Nibung, Kecamatan Pulau Burung, terpaksa mengandalkan air hujan untuk konsumsi sehari-hari.

"Mayoritas air hujan bang, sisanya pakai air galon. Di sini kalau untuk mandi dan mencuci menggunakan air sumur, Bang, untuk masak biasanya menggunakan air hujan," ujar warga yang tinggal dekat laut, kepada Tribunpekanbaru.com.

Ajib mengatakan, meskipun kualitas air semakin membaik jika jauh dari laut, namun kualitas air tanah masih tidak layak untuk dikonsumsi karena masih bewarna.

"Semakin jauh dari laut kualitas air semakin baik sih. Tapi karena gambut tetap berwarna merah bang," keluhnya.

Halaman
123
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved