Tsunami Banten dan Lampung Selatan

Beginilah Penampakan Letusan Gunung Anak Krakatau Sehari usai Tsunami Menerjang Banten dan Lampung

Hingga Senin (24/12/2018) sekitar pukul 07.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sudah 281 orang meninggal dunia

Beginilah Penampakan Letusan Gunung Anak Krakatau Sehari usai Tsunami Menerjang Banten dan Lampung
ANTARA FOTO/BISNIS INDONESIA/NURUL HIDAYAT VIA KOMPAS.COM
Foto udara letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12/2018). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) pukul 17.22 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak (sekitar 1.838 meter di atas permukaan laut) 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Tsunami menerjang wilayah pantai di sekitar kawasan Selat Sunda, Sabtu (22/12/2018) malam.

Hingga Senin (24/12/2018) sekitar pukul 07.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sudah 281 orang meninggal dunia, 1.016 luka-luka, dan 57 orang dilaporkan hilang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, ada dua peristiwa yang kemungkinan menjadi pemicu tsunami di sekitar Selat Sunda, yakni aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang tinggi akibat faktor cuaca di perairan Selat Sunda.

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan masih mendalami apakah ada kaitannya tsunami dengan aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau.

Kabid Mitigasi Gunung Api PVMBG Wawan Irawan mengatakan, pendalaman ini dilakukan karena pada Sabtu (22/12/2018) letusan Gunung Anak Krakatau sama seperti hari-hari sebelumnya.

Secara visual, teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300-1.500 meter di atas puncak kawah.

Adapun, secara kegempaan, terekam gempa tremor menerus dengan amplitudo overscale (58 mm).

"Pada pukul 21.03 WIB terjadi letusan, selang beberapa lama ada info tsunami. Pertanyaannya, apakah tsunami tersebut ada kaitannya dengan aktivitas letusan? Hal ini masih didalami karena ada beberapa alasan untuk bisa menimbulkan tsunami," kata Wawan, di Kantor PVMBG, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (23/12/2018).

Wawan menyebutkan, salah satu faktor yang berpotensi menjadi pemicu tsunami adalah getaran tremor.

Berdasarkan rekaman, getaran tremor tertinggi selama ini terjadi sejak bulan Juni 2018. Akan tetapi, hal tersebut tidak menimbulkan gelombang terhadap air laut maupun tsunami.

"Material lontaran saat letusan yang jatuh di sekitar tubuh gunung api masih bersifat lepas dan sudah turun saat letusan ketika itu," ujar Wawan.

Halaman
12
Editor: Muhammad Ridho
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved