Tsunami Banten dan Lampung Selatan

Tsunami di Selat Sunda Jarang Terjadi di Dunia

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut tsunami yang terjadi di Selat Sunda jarang terjadi di dunia

TRIBUNPEKANBARU.COM - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut tsunami yang terjadi di Selat Sunda merupakan kasus spesial yang jarang terjadi di dunia.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan GeologiKementerian ESDM menyebut, erupsi gunung Anak Krakatau memang sudah terjadi erupsi sejak Juni 2018.

Hingga saat ini status gunung Anak Krakatau masih berstatus waspada.

Baca: Situs Pencarian Korban Tsunami Banten-Lampung, Klik Link familylinks.icrc.org/lampung-banten

Dikutip dari siaran pers Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM terkait tsunami di selat sunda, erupsi yang terjadi di gunung Anak Krakatau fluktuasi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan GeologiKementerian ESDM juga menyebut penyebab tsunami di Selat Sundakemungkinan besar diakibatkan longsoran sebagian tubuh dan material gunung Anak Krakatau.

Lewat siaran persnya, tsunami yang terjadi adalah kasus yang spesial.

Baca: Lagu Terakhir Ciptaan Herman Seventeen Menyentuh, Sang Istri Sebut Seakan Jadi Pertanda

"Tsunami yang terjadi adalah kasus yang spesial dan jarang terjadi di dunia, serta masih sangat sulit untuk memperkirakan kejadian partial collapsepada suatu gunung api," seperti dikutip dari siaran pers.

Badan Geologi masih berusaha memantau terkait tsunami yang diakibatkan longsoran gunung Anak Krakatau.

"Untuk itu, pemantauan tsunami di Selat Sunda baik dengan pemasangan peralatan pemantau maupun pemantauan visual dengan penginderaan jauh sangat diperlukan," dikutip dari siaran pers Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi.

Badan Geologi menyebut, hingga saat ini erupsi gunung Anak Krakatau masih berlangsung terus menerus.

Badan geologi mengimbau masyarakat di pesisir barat Banten dan pesisir selatan Lampung agar tetap waspada.

Baca: Jangan Coba-coba Pakai 10 Password Ini, Paling Gampang DIjebol dan Terburuk Sepanjang Tahun 2018

Terkait wilayah yang terdampak tsunami, Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tidak berkativitas di wilayah tersebut hingga kondisi memungkinkan.

Kepala Pusat Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo mengungkap jumlah korban dan kerusakan fisik akibat tsunami lewat Twiter-nya, @Sutopo_PN.

Korban akibat tsunami yang terjadi di Selat sunda hingga Senin (24/12/2018) pukul 07.00 tercatat 281 orang tewas, 1.016 orang luka-luka, 57 orang hilang, dan 11.687 orang mengungsi.

Sutopo juga mengungkap kerusakan akibat tsunami yakni 611 rumah rusak, 69 hotel-vila rusak, 60 toko rusak, dan 420 perahu rusak.(Tribun-video.com / Teta Dian Wijayanto)

Editor: M Iqbal
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved