Info Cuaca

Puncak Musim Kemarau 2019 Diprediksi Akan Terjadi pada Agustus-September

Awal musim kemarau sudah berlangsung di Aceh dan Sumatra sejak Januari-Februari 2019.

Puncak Musim Kemarau 2019 Diprediksi Akan Terjadi pada Agustus-September
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Pengendara bermotor menggunakan payung kanopi motor melintas di Jalan Sumatera Pekanbaru, Selasa (25/12/2018). Berdasarkan data dari Climate Prediction Center di National Oceanic and Atmospheric Administrasion. 80 persen El Nino penuh telah dimulai dan akan berlangsung setidaknya hinggga akhir Februari 2019. (TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY). 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Puncak musim kemarau di Indonesia diprediksi akan terjadi pada Agustus-September 2019 mendatang.

"Secara umum puncak kemarau 2019 diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus-September 2019," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal dalam konferensi pers, Rabu (6/3/2019).

Herizal menuturkan, awal musim kemarau sudah berlangsung di Aceh dan Sumatra sejak Januari-Februari 2019.

Namun, ia menyebut kebanyakan wilayah mulai memasuki kemarau pada April 2019.

Herizal menuturkan, dari total 342 zona musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 79 ZOM akan mengawali musim kemarau pada bulan April, yaitu sebagian wilayah Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa.

Sementara itu, 99 ZOM yang meliputi sebagian Bali, Jawa, Sumatra, dan sebagian Sulawesi akan memasuki kemarau pada Mei.

Baca: Cuaca Cerah Berawan, Terpantau 14 Titik Panas di Riau, Bengkalis Terbanyak

Baca: Tim Satgas Karhutla Riau Datangkan 10 Ton Garam untuk Modifikasi Cuaca, Tangani Kebakaran Hutan

Baca: Waspada Musim Kemarau, Cuaca Riau Diprediksi Kering Mulai Mei Hingga Oktober

 

Sedangkan 96 ZOM di Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Papua akan memasuki musim kemarau pada Juni.

Herizal menyebut, sejumlah wilayah akan mengalami musim kemarau lebih awal dari biasanya, yaitu sebagian wilayah NTT, NTB, Jawa Timur bagian timur, Jawa Tengah, Jawa Barat bagian tengah dan selatan, sebagian Lampung, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan dan Riau, serta Kalimantan Timur dan Selatan.

Adapun terdapat sejumlah wilayah lain yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih kering dari biasanya, yaitu wilayah NTT, NTB, Bali, Jawa bagian selatan dan utara, sebagian Sumatra, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Merauke.

Adapun jangka waktu masa musim kemarau dapat berlangsung mulai dua bulan sampai sepuluh bulan, tergantung letak geografis wilayah.

"Yang panjang biasanya di daerah NTT, NTB, juga beberapa tempat di utara Palu," ujar Herizal. BMKG mengimbau instansi terkait, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat untuk waspada dan bersiap terhadap kemungkinan dampak musim kemarau.

"Terutama wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan ketersediaan air bersih," kata Herizal.

Editor: Sesri
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved