Berita Riau

VIDEO: Andik Baso, Warga Meranti Riau, Terpaksa Tidur di Kolong Rumah Akibat Kebakaran Lahan

Andik Baso (55) warga Desa Tebun, Kepulauan Meranti, Riau. Akibat kebakaran yang terjadi puluhan hektar kebun Sagu miliknya di desa tersebut hangus

TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI - Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Provinsi Riau telah menjadi momok buruk bagi masyarakat.

Tidak hanya menyebabkan kerugian terhadap kesehatan dikarenakan asap yang ditimbulkan, tapi juga mengakibatkan kerugian secara ekonomi termasuk bagi masyarakat kecil.

Seperti yang dialami oleh Andik Baso (55) warga Desa Tebun, Dusun Merenggut, Kecamatan Rangsang, Kepulauan Meranti, Riau. Akibat kebakaran yang terjadi puluhan hektar kebun Sagu miliknya di desa tersebut hangus terbakar.

Saat Tribun berjumpa dengan Andik, dirinya mengaku bahwa lahan miliknya sudah dua kali terbakar dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar.

"Ini sudah terjadi dua kali, saya tidak tahu lagi mau mengdu kemana," ungkapnya sambil terus melihat ke arah lahannya yang terbakar.

Pantauan Tribun ketika itu seluruh lahannya di sekolah rumahnya sudah hangus terbakar. "Ini tinggal rumah saya saja lagi yang belum terbakar," ujarnya.

Bahkan dirinya harus terus mengawasi pelebaran api, mengingat lahan miliknya yang merupakan gambut begitu mudah terbakar. Terlihat bangunan rumah miliknya juga masih berbahan baku dari kayu.

Baca: Panas Ekstrem Kuras Energi Tim, Warga Kepulauan Meranti yang Kebunnya Terbakar Dijanjikan Bantuan

Baca: Kepulauan Meranti Riau Akan Lakukan Tera Ulang Secara Mandiri Tahun ini

Baca: Petani Kopi di Meranti Dapat Bantuan Sarana Produksi Rp 3 Miliar

Baca: Pendaftaran Online Calon Taruna, Bintara, dan Tamtama Polri Hingga Maret 2019, Ini Linknya!

Menyedihkannya lagi dirinya bahkan sudah empat hari harus tidur di bawah kolong rumahnya. Hal tersebut agar dirinya bisa dengan cepat mengantisipasi menjalarnya api sampai ke rumahnya. "Saya harus tidur di kolong rumah, sudah tidak perduli lagi kalau ada ular, yang penting rumah saya jangan terbakar," ungkapnya.

Sesekali Andik harus menjangkit tanahnya untuk memadamkan api. Hal tersebut karena air di sumur miliknya kering. "Itu ada sumur tapi kering, jadi kita madamkannya kita cangkul tanah itu," ungkapnya.

Andik juga mencontohkan bagaimana dirinya mencangkul tanahnya yang berasap agar api padam dan tidak menjalar. Dirinya bahkan tidak peduli walau tidak menggunakan alas kaki. "Kayak gitu (mencangkul) baru dia mati, karena air tidak ada," ujarnya di sela-sela aktivitasnya mencangkul tanahnya.

Halaman
12
Penulis: Teddy Tarigan
Editor: David Tobing
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved