5 Fakta 52 Warga Ponorogo Jual Harta, Rumah dan Pindah karena Termakan Isu Kiamat

Puluhan warga itu 'hijrah' ke Malang kareta ketakutan akan isu kiamat, dengan cara sembunyi-sembunyi dan mengelabuhi para tetangganya hingga kades

5 Fakta 52 Warga Ponorogo Jual Harta, Rumah dan Pindah karena Termakan Isu Kiamat
TRIBUNMADURA/RAHADIAN BAGUS
Rumah milik Marimun, warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, yang dijual Rp 20 juta, karena pindah ke Malang, akibat takut isu kiamat, Rabu (13/3/2019). 

"Ketiga pasangan suami istri tersebut juga mengajak masing-masing anak mereka, saat pergi," terang Darti, diamini Soimin.

Menurut keduanya, mereka sudah pergi sekitar satu minggu lalu.

"Nggak tahu ke mana, tiba-tiba menghilang. Saya juga kaget, wong sehari-hari biasanya cari rumput sama saya," ucap Darti.

Darti mengatakan, tetangganya yang berangkat ke Malang memang mengikuti pengajian yang dipimpin Katimun, seorang warga di desanya.

"Setiap malam Rabu dan malam Sabtu biasanya mereka ikut pengajian tersebut," bebernya.

3. Kata Kepala Desa

Sementara itu, Kepala Desa Watu Bonang, Bowo Susetyo, membenarkan, bahwa ada sekitar 16 KK di dua dusun, yakni Dusun Krajan dan Dusun Gulun yang pindah ke Kabupaten Malang untuk mengikuti pengajian.

"Yang ikut 16 KK, 14 KK di Dusun Krajan dan 2 KK di Dusun Gulun," katanya.

Bowo Susetyo juga membenarkan, bahwa ada empat rumah milik warganya yang berangkat ke Malang yang dijual, dengan harga sekita Rp 20 juta.

"Rata-rata dijual 20 juta, untungnya yang beli tetangga atau saudaranya sendiri," jelasnya.

Kata Bowo Susetyo, sebanyak 52 orang warganya yang pindah ke Kabupaten Malang karena isu kiamat itu pergi secara sembunyi-sembunyi.

Saat pindah, mereka, kata Bowo, juga tidak mengurus administrasi surat pindah di kantor desa dan sekolah.

"Keberangkatan warga itu disembunyikan. Ada sesuatu yang disembunyikan," ungkapnya.

Bahkan, Bowo Susetyo juga mengatakan, bahwa ada satu warga yang berencana akan pindah.

Saat ditanya mengaku tidak akan berangkat. Tapi pada malam harinya, mereka berangkat ke Malang secara sembunyi-sembunyi.

"Dari 53 warga desa saya yang pindah ke Malang tersebut, 10 di antaranya masih SD dan dua di antaranya masih berstatus pelajar SMP," tegas Bowo Susetyo.

4. Bupati Akui Warganya Pindah ke Malang

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni membenarkan ada warganya yang pindah secara bersama-sama lantaran termakan isu kiamat.

"Ya betul, kejadiannya sekitar sebulan yang lalu. Kami sudah berusaha mencegah, memberikan pembinaan, agar supaya itu tidak dilakukan tetapi mereka sudah terlanjut yakin dan jatuh cinta jadi ya susah," beber Ipong, Rabu (13/3/2019) siang.

"Mereka yakin dunia ini akan kiamat dan kalau ikut kiai dari Kasembon Malang itu, nanti seperti kisah Nabi Nuh, mereka tidak ikut kiamat," kata Ipong.

Ipong geleng-geleng kepala dan prihatin karena masih ada warganya yang percaya dengan hal-hal yang tidak masuk akal.

"Prihatin, masih ada yang percaya hal-hal begitu. Jelas itu nggak masuk akal. Sesungguhnya kita sudah melakukan pembinaan sekaligus memberikan pemahaman. Tapi ya sulit, mereka terlanjur percaya dan meyakini," kata Ipong.

Ipong mengatakan, agar isu kiamat ini tidak semakin meluas pihaknya akan segera berkoordinasi dengan MUI dan ormas keagamaan untuk melakukan pembinaan.

"Ya kita terus mengadakan pembinaan pada masyarakat yang belum kena pengaruh ini. Nanti akan berkoordinasi dgn MUI dan ormas keagamaan untuk turun melakukan pembinaan," katanya.

Dia menambahkan, menurutnya agar isu tersebut tidak semakin berkembang di Jawa Timur, menurutnya perlu dilakukan upaya yang serius dari ormas keagamaan, MUI, Pemprov Jatim, Pemkab Malang untuk menangani pusat ajaran tersebut di Kasembon, Malang.

 5. Terungkap identitas penyebar isu kiamat

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni mengungkapkan identitas penyebar isu kiamat bernama Katimun. Katimun merupakan warga Desa Watu Bonang. 

Dua bulan lalu, kata Bupati Ipong Muchlissoni, Katimun pulang dari menimba ilmu. Setibanya di desa tersebut, dia memengaruhi warga dan menyebarkan ajaran tersebut.

Karena isu kiamat yang disampaikan oleh Katimun tersebut, warga Desa Watu Bonang pindah ke Kasembon, Kabupaten Malang.

Kepada warga desa, kata Ipong, Katimun menyampaikan kepada warga kiamat sudah dekat.

Untuk itu jemaah diminta menjual aset-aset yang dimiliki untuk bekal di akhirat atau dibawa dan disebarkan di pondok.

"Mereka juga sampaikan kalau masuk ke jemaah ini, maka ketika dunia ini kiamat mereka tidak ikut kiamat," kata Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni saat dihubungi Kompas.com (jaringan SURYA.co.id), Rabu (13/3/2019).

Rumah Katimun di Watu Bonang didatangi polisi. Ia diduga membujuk 52 warga mengungsi ke Malang untuk menghidari kiamat setelah menjual hartanya.
Rumah Katimun di Watu Bonang didatangi polisi. Ia diduga membujuk 52 warga mengungsi ke Malang untuk menghidari kiamat setelah menjual hartanya. (TRIBUNJATIM.COM/RAHADIAN BAGUS P)

 Penyebar aliran itu juga menyatakan pada ramadhan yang akan datang akan ada huru-hara atau perang.

Untuk itu jemaah diminta membeli pedang kepada kiai seharga Rp 1 juta.

 "Bila tidak membeli pedang diminta menyiapkan senjata di rumah. Ini tidak masuk semua," kata Ipong.

Ipong mengatakan pengikut kiai asal Kasembon itu tidak hanya berasal dari Ponorogo saja.

Informasinya ada juga yang berasal dari berbagai kabupaten di Jawa Timur.

Ipong menambahkan saat ini 52 warganya itu sudah pindah ke pondok yang berada di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang sejak sebulan lalu.

"Tak hanya pindah, rumahnya juga sudah dijual tetapi ada yang belum laku," kata Ipong. (Tribunnews/Surya)

Editor: Sesri
Sumber: TribunStyle.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved