Kampar

Cocok di Lahan Gambut dan Tak Susah Merawatnya, Budidaya Nenas Unggul di Desa Pagaruyung Kampar Riau

Nanam nenas ini memang cocok di lahan gambut. Tidak susah (merawatnya), yang penting kita rajin melihat. Sekalian jaga-jaga juga kalau ada api

Cocok di Lahan Gambut dan Tak Susah Merawatnya, Budidaya Nenas Unggul di Desa Pagaruyung Kampar Riau
TribunPekanbaru/Melvinas Priananda
Potensi Ekonomi Nenas - Pedagang mengatur buah nenas yang akan dijual di jalan lintas Pekanbaru - Bangkinang, beberapa waktu lalu. 

Lalu mengingat posisi Riau yang strategis, dekat dengan beberapa negara tetangga, maka potensi ekspor pun bisa dikembangkan.

Baca: BRG Targetkan 500 Hektar Pemulihan Gambut Lahan Konsesi Riau Hingga Akhir Tahun 2019

"Kita masih akan perbaiki dulu sistem produksi, efisiensinya, higienisnya bisa terjaga. Untuk itu saya rasa butuh konsultan bisnis. Para petani nantinya juga bisa lebih dilatih lagi," bebernya.

Nazir mengakui jika nenas di lahan gambut ini memang lebih enak, manis, serta juicy (banyak airnya).

Bahkan katanya, nenas gambut ini sudah pernah dicoba oleh Presiden Joko Widodo, dalam suatu kegiatan Pekan Hasil Pertanian beberapa waktu lalu.

"Beliau kaget, loh kok manis sekali. Saya bilang itu nenas dari gambut Pak (dari Riau)," ungkapnya.

Nazir meyakinkan, selain program rewetting (pembasahan) dan revegetasi (penanaman), program revitalisasi ekonomi dengan pengelolaan lahan gambut seperti ini akan terus dilakukan. Tak hanya di Provinsi Riau, namun juga di beberapa Provinsi lainnya.

"Pada prinsipnya, lahan tidur dan terancam kebakaran karena kering dan tak terkelola, kita akan bantu agar bisa dimanfaatkan. Turut bekerjasama dengan Pokmas setempat," urainya.

Baca: Petani di Desa Pulau Bodi Kampar Riau Dapat Bantuan Vertical Dryer Padi dan Power Threser

Terpisah, Bupati Kampar Catur Sugeng Susanto menyampaikan apresiasinya kepada BRG.

"Program BRG ini cukup efektif ya, kami pemerintah daerah menyambut baik dan mendukung seluruh program BRG. Semenjak ada program ini juga, dulunya kebakaran parah di Kampar, sekarang hampir tidak ada, persentasenya sangat kecil sekali," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Kepala BRG Nazir Foead juga menyerahkan enam sertifikat Surat Perjanjian Kerjasama Swakelola (SPKS) secara simbolis kepada enam Pokmas.

Satu paket untuk budidaya nenas Desa Pagaruyung, Kampar. Tiga paket untuk peternakan sapi Desa Tasik Serai Timur, Bengkalis.

Satu paket untuk budidaya cabe Desa Koto Pait Maju, Bengkalis, serta satu paket untuk budidaya lebah kelulut, Desa Bukit Timah, Dumai.(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

Penulis: Rizky Armanda
Editor: CandraDani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved