Diduga Janjikan Magic Com Saat Kampanye, Caleg PKB di Meranti Disidang di PN Bengkalis

Seorang caleg dari PKB di Meranti, menjalani sidang perdana dugaan pidana pemilu. Saat kampanye lalu, dia diduga menjanjikan sesuatu kepada warga.

Diduga Janjikan Magic Com Saat Kampanye, Caleg PKB di Meranti Disidang di PN Bengkalis
tribun pekanbaru
Terdakwa tindak pidana pemilu, caleg dari PKB berinisial HA, mendengarkan pembacaan dakwaan oleh JPU dari Kejari Kepulauan Meranti, Senin (29/4) siang. 

tribunpekanbaru.com - Pengadilan Negeri (PN) Bengkalis mulai menyidangkan dugaan tindak pidana pemilu, yang menjerat calon legislatif (caleg) Kabupaten Kepulauan Meranti dari PKB berinisial HA.

Sidang perdana dengan agenda pembacaam dakwaan, dipimpin Ketua Majelis Hakim Annisa, didampingi Hakim Anggota Wimmi D Simarmata dan Mohd Rizky Musmar.

Pada sidang perdana ini, terdakwa HA didampingi kuasa hukumnya Aziun Asyaari. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Kepulauan Meranti diwakil oleh Jaksa Tohodo Naro.

Dalam dakwaannya JPU mengungkapkan, terdakwa diduga melakukan tindak pidana pemilu dengan pasal yang disangkakan yakni Pasal 523 ayat (1) Jo Pasal 521 Jo Pasal 280 ayat (1) huruf J UU No 07 tahun 2017 tentang Pemilu, dengan ancaman 2 tahun penjara dan denda maksimal Rp24 juta.

Dalam dakwaannya JPU Kejari Meranti menjabarkan detail dugaan tindak pidana pemilu yang dilakukan terdakwa. Terdakwa HA selaku caleg dari PKB Dapil 1 Kecamatan Tebing Tinggi Nomor urut 1, diduga melakukan pidana pemilu saat kampanye, dengan menjanjikan materi kepada peserta kampanye.

JPU menghadirkan saksi dari Bawaslu Bengkalis dan saksi pelapor dari masyarakat. Hadir langsung sebagai saksi Ketua Bawaslu Kepulauan Meranti, Syamsurizal, dan saksi pelapor bernama Erwan.

Menurut Syamsurizal, dugaan pidana pemilu bergulir setelah Bawaslu dapat laporan warga pada 14 Maret 2019. "Dari kajian kita, yang dilakukan terdakwa memiliki unsur money politic, dengan menjanjikan uang atau materi lain kepada warga agar memberi suara pada terdakwa," kata Syamsurizal.

Disebutkan, barang bukti yang dilaporkan ke Bawaslu berupa foto dan video terdakwa yang sedang silahturahmi ke warga, dan menjanjikan memberi sesuatu. "Terdakwa dalam video alat bukti menyampaikan memiliki seribu drum dan magic com yang akan dibagikan. Khusus di tempat silatuhrami, terdakwa berencana membagikan 50 unit," terang Syamsurizal.

Kuasa hukum terdakwa usai sidang mengatakan, dakwaan JPU masih diragukan tindak pidananya. Pasalnya, alat bukti berupa video tidak ada analisis dari ahli IT.

"Kita ragukan rekaman video yang jadi alat bukti ini, tidak ada terangan ahli IT yang menyatakan itu betul gambar dan video terdakwa. Seharusnya penyidik sejak awal mengambil keterangan ahli IT dulu sebelum melanjutkan perkara ini," terang Aziun.

Menurut dia, barang yang dijanjikan akan diberikan kepada warga berasal dari APBD Meranti karena kliennya juga anggota DPRD Meranti. "Tempat silahturahmi ini memang Dapil klien kita menjadi anggota dewan saat ini. Jadi sebagai dewan wajar dia memberi bantuan kepada masyarakatnya. Pertemuan juga silahturahmi, bukan kampanye," terangnya.

Sidang ini akan dilakukan PN Bengkalis selama 7 hari kerja sampai ada putusan. Sidang akan dilanjutkan hari ini dengan pemeriksaan saksi lainnya. Bawaslu Meranti akan mengawal terus proses persidangan sampai keputusan Hakim nantinya. (sir)

Penulis: Muhammad Natsir
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved