Harga Kelapa di Inhil Masih Rendah, Warga: Pemerintah Jangan Teori Saja

Warga petani kelapa di Kabupaten Inhil mengeluhkan harga jual kelapa yang tak kunjung membaik. Sementara Pemkab Inhil dinilai hanya kebanyakan teori.

Harga Kelapa di Inhil Masih Rendah, Warga: Pemerintah Jangan Teori Saja
tribun pekanbaru
Tumpukan kelapa dibiarkan membusuk oleh petani karena harga kelapa yang rendah. Harga jual kelapa tidak bisa menutup biaya yang dikeluarkan untuk berkebun kelapa hingga masa panen. 

tribunpekanbaru.com - Menghadapi Lebaran Idul Ditri 1440 Hijriyah, para petani kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) masih dihadapi belum stabilnya harga kelapa, bahkan cenderung turun.

Kondisi ini membuat para petani mulai tidak mengurus kelapa miliknya. Mereka malah lebih memilih mengambil upah dari bekerja kelapa.

Menurut Arip, warga Desa Teluk Kelasa, Kecamatan Keritang, Inhil, masyarakat petani yang memiliki kebun kelapa lebih memilih mengambil upah kelapa, karena tidak ada modal lagi untuk kebunnya akibat rendahnya harga kelapa.

“Petani memilih mencongkel kelapa dengan upah Rp100 per butir, jadi tidak keluar modal lagi,” ujar Arip kepada Tribun kemarin.

Dengan bayaran tersebut, menurut Arip, satu orang bisa mencongkel minimal 1.000 butir kelapa setiap hari dan mengantongi upah Rp100 ribu. Ini tentu saja lebih menguntungkan daripada mengolah kebun sendiri di tengah harga kelapa yang rendah.

“Minimal harga kelapa bulat atau belum dikupas di sini Rp700, rendah sekali. Kalau dikalkulasikan dengan semua biaya mengolah kebun sendiri, petani malah sering rugi atau nombok,” terang Arip, yang selama ini menggantungkan hidup dari kelapa bersama keluarga.

Selain bekerja mengambil upah kelapa, menurut Arip, petani juga memilih mengambil upah di komoditas lain seperti pinang. Kebiasaan masyarakat petani yang menjual kelapa bulat, diduga Arip juga menjadi penyebab berbagai program membuat produk turunan kelapa tidak berhasil.

“Paling cuma beberapa hari semangatnya memproduksi, terus hilang lagi. Masyarakat biasa instan, tinggal jual saja dapat duit. Kalau produk turunan ada prosesnya, masyarakat itu tidak sabar, biasa panen langsung jual,” tuturnya.

Arip berharap hal ini menjadi perhatian pemerintah untuk memberi motivasi kepada masyarakat, di samping mempercepat dan merealisasikan segera program yang bisa membuat harga kelapa tinggi dan stabil.

“Mohon perhatian lah kepada pemerintah. Programnya cepat direalisasikan, jangan hanya teori–teori saja yang sampai saat ini belum ada aksinya. Petani semakin memprihatinkan saja,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Burhanuddin, seorang petani kelapa di Kecamatan Mandah. Menurutnya, kondisi perkelapaan di Inhil saat ini makin tidak jelas, dan petani harus bekerja ekstra agar bisa tetap hidup di negeri yang diklaim sebagai hamparan kelapa dunia ini. “Semakin saja, semakin bawah. Petani betul–betul usaha sendiri,” Burhan.

Dia menilai, saat ini belum terlihat usaha nyata Pemda Inhil memperjuangkan harga kelapa dan nasib petani. “Belum nampak, Pemda masih gitu-gitu aja,” katanya.

Sebelumnya, berbagai solusi diapungkan Pemkab Inhil guna mengatasi problem harga kelapa ini. Seperti menciptakan produk turunan berbahan baku kelapa untuk kemudian dipasarkan, rencana penerapan Sistem Resi Gudang (SRG), dan mengatur tata niaga kelapa. Namun semua teori itu belum dirasakan dampaknya oleh petani kelapa di Inhil. (odi)

Penulis: T. Muhammad Fadhli
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved