Hery, Petugas KPPS yang Meninggal Dunia Merupakan Tulang Punggung Keluarga

Anggota KPPS Desa Sungai Ara, Pelalawan, meninggal dunia setelah dirawat sejak usai pemilu 17 April lalu, menambah daftar petugas pemilu tewas.

Hery, Petugas KPPS yang Meninggal Dunia Merupakan Tulang Punggung Keluarga
Istimewa
Jenazah Hery Kusmianto, anggota KPPS Desa Sungai Ara, Kabupaten Pelalawan, saat akan dikebumikan di TPU Desa, Rabu (29/5). 

tribunpekanbaru.com - Anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Desa Sungai Ara Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Riau, bernama Hery Kusmanto (35), meninggal dunia pada Rabu (29/5) subuh sekitar pukul 00.30 WIB. Hery meninggal dunia setelah menderita penyakit selama sebulan lebih.

Menurut Kepala Desa Sungai Ara, Haryono, jenazah almarhum dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa, setelah disemayamkan di rumah duka. Pihak keluarga sangat terpukul atas kepergian Hery Kusmanto. Terlebih, Hery hanya tinggal berdua dengan ibunya, sedangkan abang dan kakaknya sudah berkeluarga semua.

"Selama ini almarhum yang menghidupi ibunya, ibaratnya tulang punggung. Makanya merasa terpukul setelah almarhum meninggal dunia," beber Haryono kepada Tribun, Rabu (29/5).

Haryono bercerita, almarhum Hery bersama anggota KPPS 01 Desa Sungai Ara lainnya, fokus mendirikan tenda pada Selasa 16 April sore, sehari jelang pemungutan suara. Rangka tenda yang terbuat dari kayu dipancat Hery untuk mengikatkan. Tapi naas baginya, anak paling bungsu itu terjatuh dari ketinggian 2,5 meter dengan kondisi pinggangnya membentur tanah.

Ia langsung dilarikan ke tukang urut untuk pengobatan tradisional. Oleh teman-temannya, Hery diminta istirahat saja dan tak perlu bertugas pada hari pencoblosan. Namun Hery tetap menuntaskan tugasnya hingga semua proses selesai.

"Sampai jam 5 subuh dia masih di TPS untuk penghitungan suara dan beres-beres," kata Haryono.

Kesokan harinya, almarhum mulai merasa sakit dan mengeluh pada bagian perut. Ia dilarikan ke bidan desa, kemudian dirujuk ke RSUD Selasih Pangkalan Kerinci. Selama dua minggu menjalani rawat inap, pihak keluarga kemudian membawanya pulang ke kampung. Namun kondisi kesehatannya terus menurun selama dirawat di rumah.

Terakhir pada Senin (26/5) lalu, pria yang bekerja serabutan ini dilarikan ke RS Efarina dan langsung masuk ruang ICU. Hanya satu hari dirawat, ia pun menghembuskan nafas terakhir. Pemerintah desa berharap korban mendapat santunan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pelalawan.

"Diagnosa dokter almarhum mengidap penyakit komplikasi. Mulai lever sampai ke ginjal, itu keterangan dokter," tutur Haryono. (joe)

Penulis: johanes
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved