Breaking News:

Kamu Harus Tahu, Inilah Sejarah dan Tradisi Makan Ketupat pada Hari Raya Idul Fitri

Hidangan yang identik menemani Lebaran adalah ketupat. Ketupat menjadi makanan yang selalu ada di meja makan di masa Lebaran.

Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Pedagang sarang ketupat lebaran tengah menjajakan dagangannya di Pasar Jalan Agus Salim Pekanbaru, Selasa (12/6/2018).  (TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY). 

Kamu Harus Tahu, Inilah Sejarah dan Tradisi Makan Ketupat pada Hari Raya Idul Fitri

TRIBUNPEKANBARU.COM - Hari Raya Idul Fitri menjadi momentum untuk berkumpul bersama keluarga besar. Salah satu yang tak terpisahkan dari perayaan ini biasanya adalah makan bersama. 

Hidangan yang identik menemani Lebaran adalah ketupat. ' Ketupat menjadi makanan yang selalu ada di meja makan di masa Lebaran.

Terbungkus apik dengan janur berwarna hijau kekuningan, ketupat sangat cocok dipadukan dengan masakan berkuah lainnya. 

Namun, ada makna yang terkandung dalam ketupat yang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Muslim di Nusantara.

 

Ada filosofi kuat, kenapa tradisi memakan ketupat saat Lebaran masih dilaksanakan sampai sekarang. 

Sejarawan Universitas Padjadjaran Bandung, Fadly Rahman, mengungkapkan bahwa awalnya ketupat bukan identik dengan tradisi Islam atau Lebaran.

Baca: Anjuran Rasulullah SAW: Niat & Tata Cara Mandi Sunah / Mandi Wajib Jelang Salat Hari Raya Idul Fitri

Baca: Bacaan Lengkap Niat dan Tata Cara Sholat Idul Fitri, Ramadahan 1440 H

Baca: Ternyata Ini Alasan Mengapa Tiba-tiba Bangun Pukul 3 Pagi, Bukan Hal Mengerikan!

" Ketupat sudah ada pada masa pra-Islam dan tersebar di wilayah hampir di Asia Tenggara dengan nama yang berbeda-beda. Selain itu, ketupat juga identik dengan tradisi animisme," ujar Fadly kepada Kompas.com. 

Dulu masyarakat agraria yang tersebar di Nusantara memiliki tradisi menggantung ketupat di tanduk kerbau untuk mewujudkan rasa syukur karena panen yang dihasilkan.

Tak berhenti di situ, sampai sekarang juga masih ada tradisi dari masyarakat Indonesia yang melakukan tradisi yang sama dengan menggantungkan ketupat. 

Bedanya, mereka menggantungkan ketupat yang masih kosong di depan pintu rumah untuk menolak bala atau pengaruh negatif yang masuk. 

Pengaruh Sunan Kalijaga 

Pada abad ke-15 dan ke-16, Sunan Kalijaga sebagai salah satu pendakwah di Pulau Jawa menggunakan budaya untuk menyiarkan agama Islam. Ajaran Islam yang disyiarkan oleh Sunan Kalijaga terbilang berhasil karena melalui pendekatan yang banyak perhatian masyarakat. 

Menurut Fadly, karena ketupat identik dengan masyarakat agraria, Sunan Kalijaga mengkreasikan makanan itu sebagai kuliner yang khas dengan momen Lebaran. 

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved