Negeri Tempat Ustaz Abdul Somad Ambil S3 Sedang Krisis, 100 Orang Demontrans Dilaporkan Tewas

Aktivitis oposisi menyebut, puluhan jenazah tersebut merupakan korban tindakan keras terhadap aksi demonstrasi pro-demokrasi.

Negeri Tempat Ustaz Abdul Somad Ambil S3 Sedang Krisis, 100 Orang Demontrans Dilaporkan Tewas
REUTERS/STRINGER via Kompas.com
Demonstran mendirikan barikade di jalan dan menuntut agar Dewan Militer Transisi negara itu menyerahkan kekuasaan kepada warga sipil di Khartoum, Sudan, Senin (3/6/2019). 

TRIBUNPEKANBARU.COM- Sudan, negeri tempat Ustaz Abdul Somad mengambil gelar S3 kini tengah bergejolak. Dilaporkan lebih 100 jiwa korban telah jatuh akibat tindakan kekerasan yang dilakukan aparat terhadap demonstran pro demokrasi.

Mengenai kabar Ustaz Abdul Somad yang mengambil gelar S3 dibenarkan oleh Rektor UIN Suska Riau Prof Akhmad Mujahidin Rabu (8/5/2019) lalu sebagaimana dilansir oleh tribunnews.com.

Dia menyampaikan, hingga saat ini UAS masih dosen di Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau.

"Ya, masih dosen. Dia itu sekarang, posisi administrasinya sedang S3 di Sudan. Selama tiga tahun ia akan belajar disana. Surat izin tugas belajarnya ada," jelas Akhmad, Rabu (8/5/2019).

Prof Akhmad Mujahidin menjelaskan hal tersebut terkait isu  Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) mengirimkan surat yang meminta pihak rektor Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau di Pekanbaru, untuk mengklarifikasi pertemuan Ustaz Abdul Somad (UAS) dengan Prabowo beberapa waktu lalu.

Baca: Bingung Mau Puasa Syawal atau Puasa Ganti (Qadha) Lebih Dulu? Ini Solusi Dari Ustaz Abdul Somad

Baca: Bagaimana Hukum Ziarah Kubur Setelah Lebaran? Ini Pejelasan Ustaz Abdul Somad

Pihaknya mengakui sudah mencoba menghubungi Ustaz Abdul Somad namun terkendala komunikasi dan saat itu UAS belum bisa dihubungi.

"Kita tanggal 6 Mei sudah memanggil UAS. Tapi sampai sekarang WA (WhatsApp) saya enggak dijawab, telpon enggak diangkat, gitu kan. Jadi, Insya Allah besok pagi, Kamis (9/5/2019) akan kita panggil lagi untuk diminta klarifikasi. Kan di surat itu dikasih waktu 14 hari. Jadi besok kita panggil lagi," sebut Akhmad.

Sementara itu dilansir dari Kompas.com, sebanyak 40 mayat diambil dari Sungai Nil yang berada di Khartoum, Sudan. 

Aktivitis oposisi menyebut, puluhan jenazah tersebut merupakan korban tindakan keras terhadap aksi demonstrasi pro-demokrasi. Melansir dari BBC, Rabu (5/6/2019), dokter dari oposisi menyebut mayat-mayat yang berada di sungai merupakan bagian dari 100 orang yang diyakini tewas.

Mereka kehilangan nyawa akibat serangan pasukan keamanan terhadap kamp protes pada Senin (3/6/2019).

Halaman
1234
Penulis: CandraDani
Editor: CandraDani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved