1 Juta Rohingya Rayakan Idul Fitri di Pengungsian, Hidup Dari Belas Kasihan di Negara Lain

Bangladesh bukan negara saya. Kita hidup di sini oleh belas kasihan orang lain. Kami ingin kembali ke negara kami sendiri, tetapi kami membutuhkan hak

1 Juta Rohingya Rayakan Idul Fitri di Pengungsian, Hidup Dari Belas Kasihan di Negara Lain
Istimewa/via serambinews
KETUA Solidaritas Aceh untuk Rohingya (SAUR) Tgk H Faisal Ali, bersama anak-anak Muslim Rohingnya di mushalla yang dibangun dengan bantuan masyarakat Aceh, di Cox's Bazar, Bangladesh, Minggu (4/2/2018). 

TRIBUNPEKANBARU.COM- ​​Hamida Khatun adalah satu dari lebih satu juta pengungsi Rohingya yang merayakan Idul Fitri 1440 H di sebuah kamp darurat yang penuh sesak di distrik Cox's Bazar, Bangladesh.

Seperti ibu-ibu lainnya, Hamida yang kini hidup seorang diri, melewati hari kemenangan ini dalam kondisi penuh kesedihan.

Hamida tidak mampu membeli apapun, termasuk baju baru, untuk kedua buah hatinya.

Suami Hamida, Mohammad Toyab, dibunuh oleh militer Myanmar pada tahun 2017 ketika mereka melarikan diri dari penumpasan di Rakhine.

“Sungguh hidup yang bahagia. Suamiku bekerja di ladang dan aku berhasil pulang. Dia pulang pada malam hari, dan kami berdua merawat bayi-bayi kami. Sekarang saya sendirian. Saya tidak punya rumah, tidak punya properti, tidak ada yang berbagi kesedihan,” kata Khatun, seperti dilansir Kantor Berita Turki, Anadolu Agency, Rabu (5/6/2019).

Kondisi lebih baik dialami oleh Mahmud Ullah, tetangga Hamida di kamp pengungsian.

Meski juga hidup dalam frustrasi, Ullah berhasil membeli baju baru untuk anaknya.

“Bangladesh bukan negara saya. Kita hidup di sini oleh belas kasihan orang lain. Kami ingin kembali ke negara kami sendiri, tetapi kami membutuhkan hak kewarganegaraan dan keamanan terlebih dahulu,” kata Mahmud Ullah kepada Anadolu Agency.

“Idul Fitri adalah untuk orang-orang bebas yang memiliki rumah, tanah, dan identitas mereka sendiri. Itu bukan untuk kita. Kami tidak gratis. Kami seperti tahanan," lanjut dia.

Pengungsi Rohingya menanti pembagian bantuan makanan di kamp pengungsian di distrik Ukhia, Bangladesh.
Pengungsi Rohingya menanti pembagian bantuan makanan di kamp pengungsian di distrik Ukhia, Bangladesh. (Munir Uz Zaman/AFP)

Lain lagi kisah Jaber Hossain. Meski harus merayakan Idul Fitri 1440 H di sebuah kamp darurat yang penuh sesak, Jaber Husen tetap senang karena bisa menyambut festival terbesar Islam secara tenang, tanpa rasa was-was.

"Saya dapat melakukan sholat Ied saya di sini tanpa rasa takut akan serangan, dan kami tidak perlu menugaskan beberapa orang untuk menjaga kami pada saat sholat Ied, seperti yang harus kami lakukan di Myanmar," kata Hossain kepada Anadolu Agency.

Dia mengatakan ketika tinggal di tanah kelahirannya di Myanmar, dia melihat bahwa Azan, atau panggilan untuk sholat, dilarang di sebagian besar masjid oleh otoritas Myanmar.

Halaman
1234
Editor: CandraDani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved