Kesehatan

Ibu Hamil Waspadai Karang Gigi, Bayi Bisa Lahir dengan Berat Badan Rendah Bahakn Prematur

Karang gigi sering dianggap sepele. Padahal, efeknya berbahaya, terutama bagi janin yang sedang dikandung.

Ibu Hamil Waspadai Karang Gigi, Bayi Bisa Lahir dengan Berat Badan Rendah Bahakn Prematur
istimewa
Dokter gigi Riona Ulfa 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Karang gigi sering dianggap sepele. Dibiarkan karena dikira tidak memiliki efek langsung yang langsung kelihatan. Padahal, efeknya berbahaya. Terutama bagi janin.

Drg Riona Ulfa mengungkap dampak buruk karang gigi bagi janin. "Bisa BBLR atau berat bayi lahir rendah," ungkapnya, Kamis (30/5/2019).

Menurut referensi yang pernah ada, bayi bisa lahir berukuran terlalu kecil bahkan dimungkinkan prematur.

Karang gigi tentu bukan pada janin itu. Melainkan pada ibu hamil. Riona mengingatkan ibu hamil waspada terhadap karang gigi. Ia menjelaskan, karang gigi menyebabkan munculnya bakteri di mulut.

Bakteri tersebut kemudian tertelan ke dalam tubuh bersama ludah atau makanan. Lalu masuk ke tubuh calon bayi. Sehingga mengganggu pertumbuhannya.

"Dari penelitian yang ada, salah satu penyebab kelainan pada bayi karena bakteri dari karang gigi," kata pemilik Riona Dental Care di Jalan Harapan Raya ini.

Karang gigi, kata Riona, juga merusak jaringan pendukung gigi. Yakni, gusi dan tulang gigi. Pada kondisi tersebut, gigi akan goyang.

Bahkan bisa copot dengan sendirinya. Gusi menjadi sering mengeluarkan darah dan infeksi. Sehingga membahayakan kesehatan janin.

Riona menjelaskan, karang gigi merupakan kasus yang paling banyak dijumpai. Karang gigi adalah hasil pengkristalan plak-plak sisa makanan. Menempel sangat kuat pada gigi, sehingga dinamai karang.

Menurut Riona, perokok, penikmat kopi dan teh termasuk paling berisiko karang gigi.

Gigi menjadi kesat dan tak jarang menjadi stain atau noda pada gigi berwarna kecoklatan. Noda tersebut memudahkan karang gigi menempel.

Dokter di RS Universitas Riau ini menambahkan, karang gigi juga disebabkan kebiasaan mengunyah sebelah. Misalnya, hanya menggunakan geraham kanan atau kiri. Bagian geraham yang tidak pernah dipakai mengunyah menjadi tempat berkumpulnya plak.

"Mengunyah makanan bersama air liur terkadang membantu pembersihan gigi," kata Riona.

Riona mengatakan, pencegahan karang bisa dilakukan dengan menyikat gigi yang baik dan benar. Menurut dia, munculnya karang gigi tak lain karena pembersihan yang kurang tepat.

"Kebanyakan pagi-pagi itu, bangun langsung sikat gigi baru sarapan. Harusnya sarapan dulu baru sikat gigi," ujar Riona mencontohkan. Cara menyikat juga kerap tidak diperhatikan. Posisi bulu sikat harus miring 45 derajat terhadap gigi.

Di samping itu, gerakan sikat juga harus melingkar. Bukan sekedar horizontal. Intinya, bulu sikat harus mencapai celah gigi dan gusi. Tujuannya agar plak-plak dari sisa makanan dibersihkan.

Perawatan Rutin Tiap Enam Bulan Sekali

Perawatan gigi harus rutin dilakukan. Menurut drg Riona Ulfa, idealnya perawatan enam bulan sekali. Perawatan tidak mesti karena ada keluhan, seperti karang gigi.

"Idealnya, perawatan dalam kondisi apapun, setiap enam bulan," ungkap Riona. Perawatan rutin menghindarkan gigi dari gangguan. "Kalau sudah parah, bisa jadi mahal," katanya.

Karang gigi akan lebih mudah dibersihkan dengan perawatan rutin. Dibersihkan dengan alat Scaling Gigi. Karang gigi tidak akan bisa dibersihkan penyikatan biasa.

"Scaling adalah gerakan ultrasonic yang mencongkel dengan alat scaler," jelas Riona. Alat ini menimbulkan getaran pada gigi, sehingga karang lebih mudah tanggal.

Riona berujar, karang gigi yang belum sampai mengakibatkan periodontitis (infeksi gusi yang merusak jaringan lunak dan tulang penyangga gigi) bisa dibersihkan hanya dengan sekali tindakan. Namun jika sudah menyebabkan radang, scaling perlu berkali-kali.

"Kalau sudah parah, sudah jadi penyakit periodontitis, harus ditangani seminggu atau dua minggu berikutnya selama 4 kali pertemuan," ujar Riona. Ini bertujuan untuk mencegah karang gigi terbentuk kembali.

Perlu diketahui, kata Riona, pembersihan karang gigi juga perlu memperhatikan kondisi jaringan pendukungnya. Jika jaringan pendukungnya rusak, gigi menjadi goyang.

Hingga mobiliti kelas 2, gigi masih bisa diperbaiki setelah pembersihan karang. Pada gigi dipasang pengikat yakni Splinting untuk memperkuat jaringan yang lemah. Tindakan ini tidak bisa dilakukan jika sudah mencapai mobiliti kelas 3.

"Jadi harus perawatan rutin atau ditangani dengan cepat," pungkas Riona. (Tribunpekanbaru.com/fernando sihombing)

Penulis: Fernando Sihombing
Editor: Nurul Qomariah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved