KISAH Soeharto Todongkan Pistol ke Kepala Perwira: Aku Sentil Kau

Soeharto yang sudah sangat marah memanggil perwira tersebut dan menodongkan pistol ke kepala sang perwira

KISAH Soeharto Todongkan Pistol ke Kepala Perwira: Aku Sentil Kau
Net
Soekarno dan Soeharto 

Herman yang masih memendam ngeri dalam hati bertanya lagi, “Mengenai apa, Pak?”

Baca: Pandangan Teuku Wisnu Soal Poligami, Shireen Sungkar: Sebagai Perempuan Saya Enggak Sanggup

Baca: Sedang Patroli Perbatasan Indonesia-Papua Nugini, TNI Justru Temukan Ladang Ganja Seluas 4 Hektar

Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini Rabu 12 Juni 2019,SAGITARIUS Hati-hati, PISCES Komunikasikan dengan Pasangan

Jenderal Abdul Haris Nasution dan Mayor Jenderal Soeharto berdoa di depan peti jenazah almarhum Jenderal Sutojo (kompas)
Jenderal Abdul Haris Nasution dan Mayor Jenderal Soeharto berdoa di depan peti jenazah almarhum Jenderal Sutojo (kompas) ()

“Kamu memberi 10 truk kepada kavaleri yang kamu ambil dari gudang Cakrabirawa!” jawab Soeharto.

Rupanya Soeharto tersinggung dengan inisiatif Herman yang dianggap mendahului Panglima Kostrad.

Sehari sebelumnya, Herman mengatur gerakan untuk menumpas Gerakan 30 September.

Prakarsa itu dilakukan Herman lantaran Panglima Kodam V Jaya, Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah mengkonsinyasi pasukan garnisun Jakarta.

Baca: SINOPSIS Episode 3 Drama Korea Strong Woman Do Bong Soon, Korban Penculikan Bertambah

Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini Rabu 12 Juni 2019,SAGITARIUS Hati-hati, PISCES Komunikasikan dengan Pasangan

Dengan kedudukannya sebagai Kepala Biro Antar Angkatan dan Kesiapsiagaan Staf Umum AD, Herman memutuskan untuk menyiapkan kekuatan pemukul.

Herman bergerak cepat dengan mengambil alih 10 unit truk yang berada di pool Resimen Cakrabirawa di Cawang.

 

Truk-truk tersebut diserahkan kepada Brigade Kavaleri pimpinan Letnan Kolonel Wing Wiryawan.

Selanjutnya Herman bergerak ke Jalan Madiun, mengobrak-abrik markas Badan Pusat Intelijen (BPI) pimpinan Soebandrio dan menangkap orang-orang yang terlibat atau diduga PKI.

Karena dinilai terlalu cepat dan melibatkan pasukan skala masif, tindakan Herman ini menimbulkan kesalahpahaman dengan Soeharto.

“Kalau (pistol) itu meledak, mati gue,” kata Herman bertahun-tahun kemudian kepada sejarawan Rushdy Hoesein saat mengenang kemarahan Soeharto tersebut.

Halaman
1234
Editor: Firmauli Sihaloho
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved