KISAH Soeharto Todongkan Pistol ke Kepala Perwira: Aku Sentil Kau

Soeharto yang sudah sangat marah memanggil perwira tersebut dan menodongkan pistol ke kepala sang perwira

KISAH Soeharto Todongkan Pistol ke Kepala Perwira: Aku Sentil Kau
Net
Soekarno dan Soeharto 

Menurut Rushdy, Soeharto memang pantang dilangkahi.

Meski begitu Soeharto tak pernah lupa dengan orang yang pernah berjasa untuknya.

Herman kemudian mengajukan permintaan maaf.

Baca: Hasil Andorra vs Prancis Kualifikasi EURO 2020, Prancis Pesta Gol di Rumah Juru Kunci, Skor 4-0

Baca: Pegang Pantat Perempuan yang Melintas, Pemuda Ini Dikejar Warga hingga Tak Berkutik

Baca: Barbie Kumalasari Blak-blakan Bicara Soal Urusan Ranjang, Anggap Hubungan Intim Sama dengan Olahraga

Soeharto
Soeharto 

Kejadian itu berakhir dengan saling pengertian satu sama lain.

Meski dikenal tegas kepada para penentangnya, Soeharto masih memaafkan Herman Sarens.

Pada 1966, Soeharto dilantik menjadi pejabat presiden.

Usai pelantikan, Herman diundang ke kediaman Soeharto yang saat itu masih berada di Jalan Agus Salim.

Soeharto memanggil Herman ke ruang tamu.

“Man, sini kita foto bersama. Saya sekarang pejabat presiden,” kata Soeharto. 

Mereka lantas mengabadikan potret bersama.

“Aku kemudian berfoto dengan Pejabat Presiden Jenderal Soeharto dan Ibu Tien,” kenang Herman dalam otobiografinya.

Baca: Polisi Ungkap Peran Kivlan Zen, Menentukan Target hingga Rencana Pembunuhan

Baca: Pakai High Heels Ibunya Jalan di Mal, Alasan Pemuda Ini Bikin Terharu, Kisahnya Viral

Baca: 5 Zodiak yang Selalu Menjadi Pusat Perhatian, Ada yang Senang Unjuk Gigi, Ada Zodiak Kamu?

Relasi Pasang Surut

Untuk urusan pribadi, Herman Sarens pun punya noda di mata Soeharto dan Tien Soeharto.

Pasalnya, Herman mengambil istri keduanya Letnan Jenderal Achmad Jani yang bernama Hadijah alias Hedi justru untuk dijadikan istri kedua juga.

Itu terjadi pada 1967.

“Ibu Tien kan gak senang kalau ada perwira yang mengambil istri kedua. Dia pasti langsung nge-bisik sama Pak Harto,” tutur Rushdy.

Namun hal ini tak berlangsung lama.

Selaku pejabat presiden dan pengemban amanah Supersemar, Soeharto membutuhkan korps pengamanan pribadi terhadap dirinya.

Herman dipercayai sebagai perwira yang memimpin pengawalan Jenderal Soeharto.

Soeharto kemudian mengangkatnya sebagai Komandan Komando Satuan Tugas (Kosatgas) Supersemar dengan pangkat kolonel.

Karier militer Herman bahkan kian menanjak sebagai perwira tinggi berpangkat brigadir jenderal.

Atas rekomendasi Panglima ABRI, Jenderal Maraden Panggabean, Herman dipromosikan menjadi Komandan Korps Markas Hankam.

Ketika pemerintah merencanakan membangun Markas Hankam ABRI di Cilangkap, Herman menjadi Ketua Tim Perencanaan Sarana Perlengkapan dan Peralatan.

Di saat itulah Ibu Tien Soeharto memanggil Herman ke kediamannya di Jalan Cendana.

Ibu Tien berkeinginan membangun Taman Mini Indonesia Indah yang semula direncanakan di kawasan Sunter.

Namun karena dianggap kurang luas, Herman mengusulkan mencari tanah di pinggiran Jakarta, yaitu di sekitar Bambu Apus, Jakarta Timur.

Herman mengenal wilayah itu dengan baik karena berdekatan dengan Markas Hankam di Cilangkap.

Usulan itu diterima.

Maka dibentuklah Panitia pembangunan Proyek Taman Mini Indonesia Indah.

Herman ditunjuk untuk tugas pembebasan lahan proyek Taman Mini.

Di masa ini, Herman ikut mendapat untung dan banyak mendulang aset penting baginya.

“Hermans Sarens Sudiro, seorang petinggi di yayasan Harapan Kita yang diketuai oleh Nyonya Soeharto. Herman juga manajer harian Taman Mini Indonesia Indah,” tulis George Junus Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan.

Hubungan dengan Soeharto kembali merenggang setelah kerusuhan Malari pecah.

 

Ada tudingan yang mengatakan Herman bersama Jenderal Sumitro hendak mengadakan coup.

Akibatnya, Herman ditendang ke Madagaskar sebagai duta besar.

Kendati patronase itu tak putus sepenuhnya, Herman telah berada di luar jalur kekuasaan.

Dia pun memilih putar haluan dan mulai dikenal sebagai jenderal pebisnis.

SUMBER: Manuskrip otobiografi berjudul Cerita Seorang Tentara: Cuplikan Riwayat Kehidupan Herman Sarens Sudiro.

Editor: Firmauli Sihaloho
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved