Bentrok Sepanjang Malam, 72 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit di Hong Kong

Aksi protes warga Hong Kong yang menentang RUU ekstradisi ke China daratan masih berlanjut. Bentrokan pun terjadi dengan pihak keamanan.

Bentrok Sepanjang Malam, 72 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit di Hong Kong
afp
Seorang peserta demo melempar balik gas airmata ke arah polisi, saat terjadi bentrok pada Rabu (12/6) malam. Warga Hong Kong memprotes rencana pemberlakukan RUU ekstradisi ke China daratan. 

tribunpekanbaru.com - Polisi anti huru-hara Hong Kong dan pengunjuk rasa bersiap untuk kemungkinan bentrokan lebih lanjut, setelah sebelumnya kekerasan dalam demonstrasi menolak RUU ekstradisi makin memanas.

Rabu (12/6) malam lalu, sebanyak 72 orang telah dibawa ke rumah sakit dengan dua di antaranya dalam kondisi cukup serius. Kondisi memanas setelah polisi menembakkan peluru karet dan gas airmata untuk memukul mundur para demonstran dari gedung legislatif.

Menurut saksi di lapangan, para pengunjuk rasa yang telah dipukul mundur kembali memperoleh pasokan air, kacamata, dan helm baru untuk melanjutkan aksi mereka. Beberapa terlihat mengikat lengan dan kaki mereka dengan plastik, untuk menahan dampak gas airmata dan peluru karet yang ditembakkan polisi.

Beberapa ribu demonstran masih berada di dekat gedung legislatif di distrik Admiralty, sementara ribuan lainnya telah mundur ke distrik bisnis Central.

Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, yang mendukung RUU ekstradisi dukungan Beijing tersebut, menggambarkan protes itu sebagai sebuah kerusuhan terorganisir.

"Tindakan kerusuhan yang merusak masyarakat damai, mengabaikan hukum dan disiplin, tidak dapat diterima oleh masyarakat beradab," kata Lam lewat pernyataan video, seperti diberitakan Channel News Asia, Kamis (13/6).

Polisi menggunakan gas airmata, peluru karet, dan pentungan untuk mengurai demonstran yang kebanyakan berpakaian hitam. Mayoritas dari mereka adalah anak muda dan mahasiswa, yang menuntut pihak berwenang membatalkan RUU ekstradisi ke China daratan tersebut.

Dalam bentrok tersebut, polisi Hong Kong menembakkan peluru karet dan gas air mata usai dilempari botol plastik oleh ribuan pengunjuk rasa yang memadati pusat-pusat bisnis dan pemerintahan. Aksi itu berusaha dibubarkan karena membuat bisnis serta transportasi di Hong Kong lumpuh.

Bentrok itu berlangsung sepanjang malam, dan baru mereda pada Kamis (13/6) agi waktu setempat di bawah guyuran hujan gerimis dan suhu udara yang anjlok. Walau begitu, ribuan orang masih terjebak di jalanan sekitar Jalan Lung Wo.

"Kami sudah katakan, kami akan kembali. Inilah saatnya kami kembali," kata pendukung pro demokrasi, Claudia Mo pada wartawan, Kamis (13/6).

Peserta aksi demo lain bernama Ho-Tsing (27), menyebut warga Hong Kong telah berupaya agar negaranya tetap independen dan tidak berada di bawah tekanan China. Meskipun di sadar, aksi tersebut belum tentu berhasil.

"Aksi kami ini mungkin saja sia-sia. Namun kami harus bertindak dan memperlihatkan kepada pemerintah dan internasional, bahwa kami tidak diam saja dan membiarkan pemerintah China menginjak-injak kami," katanya.

Para demonstran menyebut aksi mereka itu dengan 'gerakan payung,' yang ditandai dengan penggunaan payung untuk tameng menghadapi gas airmata dan peluru karet. Gerakan Payung itu merujuk pada nama yang dipakai saat demo 2014. Ketika itu mayoritas pendemo menggunakan payung warna kuning.

Demo menolak RUU ekstradisi ini sudah berlangsung sejak Minggu (9/6) lalu, dan diikuti sekitar satu juta warga Hong Kong. RUU ekstradisi ke China daratan itu dapat protes besar warga Hong Kong, karena memungkinkan tersangka pelaku kejahatan dikirim ke China daratan. RUU itu juga memungkinkan Beijing mengekstradisi lawan politiknya untuk diadili di China daratan.

Warga Hong Kong khawatir, seorang tersangka kejahatan atau lawan politik Beijing akan mendapatkan perlakuan sewenang-wenang, penyiksaan, dan peradilan yang tidak adil bila diadili di pengadilan China daratan yang komunis. (rin)

Penulis: rinaldi
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved