Penasehat Terdakwa Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi: Setiap Warga Negara Memiliki Hak untuk Hidup

Penasehat Terdakwa Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi: Setiap Warga Negara Memiliki Hak untuk Hidup

Penasehat Terdakwa Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi: Setiap Warga Negara Memiliki Hak untuk Hidup
(KOMPAS.com/SHERLY PUSPITA)
Penasehat Terdakwa Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi: Setiap Warga Negara Memiliki Hak untuk Hidup 

Penasehat Terdakwa Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi: Setiap Warga Negara Memiliki Hak untuk Hidup

TRIBUNPEKANBARU.COM-  Terdakwa pembunuh satu keluarga di Bekasi dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum.

Namun soal tuntutan hukuman mati mendapat sorotan dari kuasa hukum terdakwa.

Selanjutnya menyampaiakan perihal permohonan kepada majelis hakim

Tim penasihat hukum terdakwa kasus pembunuhan satu keluarga di Bekasi Harris Simamora meminta majelis hakim tidak memvonis hukuman mati kepada terdakwa.

Baca: Presiden Amerika Serikat Donald Trump Punya Dua Pendekatan dalam Pemerintahannya, Kalem dan Agresif

Baca: Sebaiknya Dikenali, Semut Charlie yang Beracun, Jangan Bersentuhan Langsung, Begini Mengatasinya

Jaksa sebelumnya menuntut pembunuh satu keluarga di Bekasi tersebut dengan hukuman mati. 

Hal itu disampaikan Ketua Tim Penasihat Hukum Harris, Alam Simamora pada sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (24/6/2019).

Pihaknya berharap majelis hakim menjatuhkan vonis seringan mungkin kepada terdakwa.

"Kami selaku penasihat hukum terdakwa dengan segala kerendahan hati memohon kepada majelis hakim yang mengadili dan memeriksa perkara untuk dapat menjatuhkan putusan dengan hukuman pidana yang seringan-ringannya bagi terdakwa," kata Alam. 

Baca: Bukan Seorang Striker, Top Skor Sementara Liga 1 Berasal dari Pemain Berposisi sebagai Gelandang

Baca: Pemain Ini Sangat Diidamkan Soskjaer, Sampai-sampai Ia Mendesak Manajeman Manchester United

Pihaknya menilai tuntutan jaksa tidak memiliki pembuktian yang kuat di persidangan.

Selain itu, tuntutan jaksa juga dinilai bertentangan dengan konstitusi negara yang tertuang pada Pasal 28 Huruf A UUD 1945 yang menyatakan,

"Setiap warga negara memiliki hak untuk hidup, mempertahankan hidup dan kehidupannya".

"Di luar bukti saksi, sebenarnya penuntut umum tidak mampu untuk membuktikan apa pun lagi. Selain dari bukti surat yang hanya berupa Visum et Repertum yang sebenarnya telah ada pada saat tingkat penyidikan perkara," ujar Alam.

Sebelumnya, Harris dituntut pidana mati oleh jaksa saat sidang lanjutan kasus tersebut di Pengadilan Negeri Bekasi, Kota Bekasi, Senin (27/5/2019).



Jaksa menyatakan perbuatan Haris dengan membunuh dan mengambil barang korban tidak dibenarkan dan layak dijatuhkan pidana mati.

Dalam kasus ini, Haris didakwa membunuh satu keluarga Daperum Nainggolan di Jalan Bojong Nangka II, Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada 12 November 2018.

Dia juga mengaku telah membunuh Daperum beserta istri dan dua anak Daperum. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pihak Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi Harap Tak Divonis Hukuman Mati", 

Penasehat Terdakwa Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi: Setiap Warga Negara Memiliki Hak untuk Hidup

Editor: Budi Rahmat
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved