Kepulauan Meranti

Nyaris Jatuh Tiap Usai Hujan,Jalan Menuju SDN 12 di Desa Sokop Meranti Licin dan Berlumpur

Untuk datang ke sekolah tempatnya mengajar penuh pengorbanan dan perjuangan. Jalan yang dilewati licin dan penuh lumpur saat hujan, berdebu saat panas

Nyaris Jatuh Tiap Usai Hujan,Jalan Menuju SDN 12 di Desa Sokop Meranti Licin dan Berlumpur
Tribun Pekanbaru/Istimewa/Mualim
Guru perempuan menuntun sepeda motor saat melewati jalan poros Desa Tebun menuju Desa Sokop untuk menuju tempatnya mengajar di SDN 12 Sokop, beberapa waktu lalu. Jalan licin dan berlumpur saat hujan dikeluhkan murid dan guru sekolah itu. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI- Untuk datang ke sekolah tempatnya mengajar harus penuh pengorbanan dan perjuangan. Jalan yang dilewati licin dan penuh lumpur saat hujan, saat musim panas, debu berterbangan.

Hla itu dialami setiap hari oleh para guru di SDN 12 Lokal Jauh di Desa Sokop, Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Jalan poros Desa Tebun menuju Desa Sokop yang harus dilewati untuk menuju sekolah memang masih terbuat dari tanah.

“Kondisi jalan di kala hujan berlumpur dan menjadi licin saat dilewati. Sedangkan bila cuaca panas, jalanan menjadi berdebu,” ujar Mualim Syah guru di sekolah tersebut, Jumat (28/6).

Mualim menuturkan, kondisi jalan tersebut setiap hari harus dilalui dirinya dan guru-guru yang lain.

“Setiap hari selama dua tahun bekerja sebagai guru honorer di SDN 12 Lokal Jauh Desa Sokop, saya harus melewati jalan itu,” ujarnya.

Mualim yang menggunakan sepeda motor dari tempat tinggalnya di Desa Tebun melalui jalan tersebut sekitar 2 kilometer.

"Kalau hari hujan, jalannya licin, bahkan kadang kita sering nyaris terjatuh. Apabila panas, jalanan penuh debu yang menyesakkan pernafasan," ungkap Mualim.

Mualim bahkan sempat mengabadikan foto saat rekannya guru wanita harus turun dari atas motor saat kondisi jalan licin usai turun hujan.

"Ada rekan guru namanya Bu Sulastri, dia sempat turun dan berjalan tanpa alas kaki menuntun motornya karena jalan licin," ujarnya.

Dari kondisi tersebut, Mualim berharap agar jalan menuju sekolahnya bisa dibuat agar memberikan kenyamanan bagi guru maupun murid yang melewati jalan tersebut.

"Di benak saya sampai kapankah jalan ini tidak beraspal. Kasihan masyarakat di sekitar, kasihan anak-anak yang setiap saat melewati jalan ini. Jika saya amati di beberapa titik, makin lama jalan poros ini tanahnya makin runtuh ke parit. Harapan saya kepada pemerintah, semoga pemerintah bisa membantu meringankan beban kami yang ada di sini," harap Mualim.

Ditambahkannya, ada sekitar 50 murid SD di tempat dirinya mengajar. Selain itu ada 4 orang guru yang mengajar di sana.

Walaupun dengan gaji yang tidak besar, Mualim tetap memiliki keinginan kuat untuk mengajar anak-anak.

"Saya punya keinginan untuk mengajar. Jadi kalau jalan bagus, tidak hanya bagi kami dan anak murid, masyarakat juga nyaman melewati jalan ini," ungkap Mualim. (Tribunpekanbaru.com/teddy tarigan)

Penulis: Teddy Tarigan
Editor: Nurul Qomariah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved