Kampar

Pemkab Kampar Sikapi Wacana Pelarangan Penggunaan Smartphone Bagi Anak di Bawah Umur 17 Tahun

Alasan pelarangan ini dimunculkan lantaran gawai sebagai salah satu pemicu kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Pemkab Kampar Sikapi Wacana Pelarangan Penggunaan Smartphone Bagi Anak di Bawah Umur 17 Tahun
Tribun Batam
Balita 4 Tahun Harus Menjalani Operasi Mata karena kecanduan bermain ponsel 

TRIBUNPEKANBARU.COM, KAMPAR - Menanggapi wacana Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau DPPPA Provinsi Riau untuk mengeluarkan Surat Edaran mengenai larangan bagi anak-anak, khususnya 17 tahun ke bawah,  menggunakan smartphone berbasis Android ditanggapi setengah hati oleh Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Kampar.

Kepala DPPKBP3A Kampar, Edy Afrizal, Jumat (5/7) berpendapat penggunaan smartphone berbasis android tidak hanya memberi dampak negatif saja tetapi juga memiliki dampak positif.

Menurutnya penggunaan smartphone berbasis android bisa sangat mendukung bagi pengembangan pengetahuan anak.

"Dari teknologi ini anak bisa belajar banyak hal, jadi sayang saja jika dilarang. Kalau diberikan pembatasan mungkin," katanya.

Edy berpendapat terkait penggunaan smartphone oleh anak-anak ini sebaiknya pengawasan oleh orang tua bisa dilakukan lebih intens jika tujuannya mencegah konten-konten negatif dikonsumsi anak.

Baca: JCH Kampar Dibagi Tiga Kloter, Mulai Berangkat pada 10 Juli 2019

Selain itu juga peran Departemen Komunikasi dan Informasi juga mesti di perkuat dalam rangka menyaring konten-konten negatif.

"Hingga saat ini kita belum terima informasi terkait wacana dari Surat Edaran larangan penggunaan smartphone android bagi anak dari DPPPA Provinsi Riau. Jika ada terima tentu akan kita pertimbangkan," ucapnya.

Ia mengatakan terkait kekerasan terhadap anak di Kabupaten Kampar pada tahun 2017 jumlah kasus yang tercatat sebanyak 100 lebih kasus, sementara pada tahun 2018 kemarin mengalami penurunan dengan jumlah kekerasan terhadap anak hanya 45 kasus.

"Jumlah kasus yang tercatat di 2018 banyak di dominasi pada kekerasan seksual dewasa terhadap anak. Kekerasan antara anak dengan anak tidak begitu tinggi," ucapnya.

Ia mengatakan melalui program kerjasama forum anak, BKKBN dan para ibu-ibu di kecamatan dan desa hingga sejauh ini mampu menekan angka kekerasan.

Halaman
12
Penulis: Ikhwanul Rubby
Editor: CandraDani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved