Berita Riau

Akibat Kawasan Jelajah dan Makanan Kian Berkurang, Konflik Gajah dan Warga di Riau Makin Meningkat

Meningkatnya konflik gajah di Riau secara umum disebabkan semakin berkurangnya ruang jelajah serta berkurangnya pakan dan tempat hidup satwa

Akibat Kawasan Jelajah dan Makanan Kian Berkurang, Konflik Gajah dan Warga di Riau Makin Meningkat
Tribun Pekanbaru/Melvinas Priananda
Evakuasi Gajah Liar - Dua ekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak milik BBKSDA Provinsi Riau beserta pawang menggiring seekor gajah liar (tengah) yang memasuki kawasan pemukiman warga di kawasan Tenayan Raya Pekanbaru untuk proses evakuasi menuju Pusat Latihan Gajah Minas- Siak, Sabtu (25/7). 

TRIBUNPEKANBARU.COM-Konflik gajah dengan manusia sejak awal Januari hingga Juni 2019 dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama, mengalami peningkatan di sejumlah wilayah di Riau.

"Meningkatnya konflik gajah di Riau secara umum disebabkan semakin berkurangnya ruang jelajah serta berkurangnya pakan dan tempat hidup satwa dilindungi tersebut," kata Kepala BBKSDA Riau Suharyono, Sabtu (6/7/2019).

Dari data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Hayati (BBKSDA) Riau, sejak awal Januari hingga Juni 2019, penanganan konflik gajah terjadi di berbagai wilayah seperti di wilayah Duri, Kabupaten Bengkalis, kemudian di Kecamatan Peranap dan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu, serta di Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru.

"Di Duri, Kabupaten Bengkalis, seekor anak gajah harus kami evakuasi akibat terkena jerat," ucap Suharyono.

Baca: 11 Gajah Liar Dilaporkan Masuk Permukiman Warga di Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar Riau

Di kecamatan Peranap dan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu, kawanan gajah masuk ke perkebunan sawit warga.

Petugas diturunkan dibantu 2 gajah latih untuk melakukan penggiringan ke kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Sementara, di Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, ada 11 kawanan gajah yang masuk ke kawasan perkebunan warga.

"Ada 11 kawanan gajah liar saat ini berada di Desa Karya Indah, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, posisinya berada di semak belukar yang berdekatan dengan kebun warga," kata Suharyono.

Tim BBKSDA Riau dibantu beberapa warga, anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) dan babinsa desa setempat sejak Jumat (5/7/2018) kemarin, melakukan penggiringan kawanan gajah liar dari lokasi semak belukar menuju habitatnya.

Baca: Dua Gajah Latih Stres Dikerumuni Masyarakat Setelah Sepekan Bertugas, Kini akan Dibawa ke TNTN

Penggiringan 11 gajah liar di Dusun III, Desa Karya Indah, dilakukan dengan menggunakan dua gajah jinak dari Pusat Latihan Gajah Riau di Minas.

Dalam penggiringan ini dilakukan penjagaan di beberapa titik tempat lintasan, agar kawanan gajah liar tidak masuk kembali ke daerah pemukiman warga.

"Sampai saat ini tim kami masih terus berada di lokasi melakukan penjagaan agar dapat memantau pergerakan kawanan gajah liar ini," ujar dia.

Suharyono mengungkapkan, dengan meningkatnya konflik, penanganan konflik gajah pada tahun 2019 ini juga meningkat.

Baca: NASIB Gajah Sumatera di Riau, Diburu, Diusir, Ditangkap, Diracun, Dihalau dan Digiring ke Hutan

"Semua kami respons dengan segera dan menurunkan tim, bahkan sampai menurunkan bantuan gajah latih kami. Namun, kendala di lapangan tidak semudah yang kami bayangkan karena terkadang kami mendapat kendala saat menggiring, karena masyarakat ada yang menghalau tidak mau dilewati kebunnya," ujar dia.

"Padahal, kami sudah memberikan imbau kepada masyarakat setempat, sehingga gajah liar yang kami giring ke habitatnya berputar-putar di kawasan tersebut karena tidak tahu harus melewati jalur mana," ujar dia.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Konflik Gajah di Riau Meningkat karena Berkurangnya Kawasan Jelajah dan Makanan"

Editor: CandraDani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved