Breaking News:

Kisah Pilu Nenek Amur yang Miskin, Sebatang Kara Hidup di Gubuk Reyot, Teriak-teriak Saat Lapar

Tiga anaknya sudah tinggal berjauhan dengan Amur. Satu anaknya Abdul Hadi, sudah meninggal,2 anak lainnya, Sulihah dan Sumairah sudah hidup menjanda

Editor: CandraDani
Kompas.com/TAUFIQURRAHMAN
Rumah Amur sudah tidak ditempati karena kawatir ambruk. Gentengnya sudah banyak berjatuhan, dindingnya bolong-bolong dan kayu-kayunya sudah banyak yang lapuk. 

TRIBUNPEKANBARU.COM-Didera sakit lambung selama 7 tahun terakhir, seorang nenek renta yang miskin terpaksa menghabiskan hari tuanya di sebuah gubuk yang reyot. Dua anak perempuannya yang tinggal satu kampung kondisi sosialnya juga tak jauh beda dengan sang nenek.

Selain miskin, status janda yang disandang kedua anak perempuannya membuat mereka pasrah dengan kondisi yang ada.

Harapan mereka, selain bantuan dari ala kadarnya dari para tetangga adalah bantuan pemerintah setempat.

Dilansir dari Kompas.com, Amur (72),seorang nenek yang tinggal sebatang kara di Dusun Janglateh Barat, Desa Campor, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, sering teriak-teriak saat lapar atau sakit perut.

Teriakannya terdengar sampai ke rumah tetangganya yang jaraknya hingga 100 meter dari tempat tinggal Amur.

Baca: Hanya karena Menu Makan Siang, Ibu Hamil Ini Tega Bunuh Mertua

Baca: BREAKING NEWS: Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan Mayat Terkubur Kondisi Telanjang di Pelalawan Riau

Bagi yang mendengarnya, mereka sudah tahu bahwa Amur butuh makan atau butuh obat untuk mengobati sakit lambung yang dideritanya tujuh tahun terakhir.

Tiga anaknya sudah tinggal berjauhan dengan Amur. Satu anaknya bernama Abdul Hadi, sudah meninggal tiga tahun yang lalu setelah menderita sakit keras pascapulang dari Malaysia menjadi TKI.

Dua anak lainnya, Sulihah dan Sumairah, tinggal di dusun yang sama. Mereka tinggal sekitar 200 meter dari rumah Amur. Sulihah dan Sumairah, keduanya, sudah hidup menjanda.

Akhir pekan kemarin, saat Kompas.com mendatangi rumah Amur, beberapa kali panggilan salam tidak dijawab.

Halaman rumah terlihat sepi. Rumah berukuran 4x3 meter, kondisinya sudah nyaris ambruk.

Atapnya sudah bolong-bolong karena sebagian gentengnya berjatuhan ke tanah. Dinding rumahnya dari anyaman bambu, juga terlihat bolong dari berbagai penjuru. Rumah tersebut sudah tidak ditempati.

Di depan rumah, ada dapur gedek berukuran 3x2. Di atas gentengnya, terlihat ada bekas nasi yang dikeringkan, dengan beralaskan karung plastik.

Baca: Hendak Melihat Teman Berangkat Haji, Wanita Ini Ditemukan Tewas di Sungai Siak Pekanbaru

Baca: Penabalan Gelar Adat Syamsuar dan Edy Natar Dihadiri oleh Sejumlah Raja dan Sultan

Di dalam dapur, sebuah tungku tanah sudah tertutup debu tebal. Beberapa ekor ayam dan kucing, berkeliaran di dalamnya. Dapur tersebut, hampir tidak ada bedanya dengan kandang hewan ternak. Amur, tinggal di suraunya.

Ia tidak bisa mengenali siapa yang datang. Matanya sudah rabun. Setiap ada suara di halaman rumahnya, ia menyebut nama Sumairah atau Sulihah.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved