Tribun WIKI

Tribun Wiki: Ekspor Kopi Liberika Meranti Riau, Komoditas Lokal Tembus Pasar Malaysia Sejak 1980

Feature Kopi Liberika Meranti Riau, komoditas lokal kualitas ekspor, tembus pasar Malaysia sejak 1980, namun produksi menurun dari tahun sebelumnya

Tribun Wiki: Ekspor Kopi Liberika Meranti Riau, Komoditas Lokal Tembus Pasar Malaysia Sejak 1980
Tribun Pekanbaru/Teddy Tarigan
FEATURE Kopi Liberika Meranti Riau, Komoditas Lokal Kualitas Ekspor Tembus Pasar Malaysia Sejak 1980 

Mereka tidak lagi melihat atau menyortir kopi liberika yang dipanen di Meranti, besar kecil, segala bentuk diangkut semua.

Dia memastikan, 90 persen kopi Liberika jadi mangsa pengusaha Malaysia.

Hanya 10 persen saja yang akhirnya dilepas ke pasar Indonesia, termasuk Riau.

Makanya Liberika belum terlalu terkenal dan bisa dikatakan langka di pasaran atau kedai kopi.

Saat ini memang sudah dibangun pemecah Ombak dari Kabupaten Merani, tapi itu belum cukup.

"Kita berharap pemecah ombak tersebut ada di sepanjang pantai, karena kebun kopi itu ada hampir di sepanjang pantai Pulau Rangsang. Memang itulah ekosistem terbaiknya, tanah mineral hingga membuat produksi buahnya maksimal," kata Hakim.

Selain soal abrasi dan serangan pasang, masalah lainnya dari perkebunan Kopi di Pulau Rangsang kata hakim adalah soal pupuk.

Pupuk terbaik bagi Liberika adalah pupuk organik.

Hal ini terkait penjagaan kondisi tanah agar terus berkesinambungan dan terus dapat dibudidayakan dalam waktu lama.

Hal ini juga menjadi kendala bagi para petani.

Baca: Warga Temukan MAYAT Pemuda Terkubur di Belakang Rumah dalam Kondisi TELANJANG Diduga Korban Dibunuh

Baca: WALIKOTA Dumai Kembali Dipanggil KPK, Pejabat Pemko Tak Tahu Dimana Zul AS, Sempat di Banjarmasin

Baca: SISWI SD di Pekanbaru Dicabuli Dua Remaja Secara BERGANTIAN di Kamar Hotel, Kepergok Orangtua Korban

Hakim mengatakan, penjualan kopi liberika Meranti sudah menembus pasar Malaysia sejak tahun 1980 silam. 

Hal itu dipengaruhi letak geografis antara Kecamatan Rangsang dengan Batu Pahat, wilayah distrik negara bagian barat Johor, Malaysia yang cenderung dekat saat dilewati melalui Selat Malaka.

“Ke Malaysia bisa ditempuh dengan waktu 2 jam. Cenderung lebih mudah ketimbang menuju ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru yang menghabiskan waktu hampir setengah hari perjalanan," kata Hakim.

Menurut Hakim, harga beli untuk pasar Malaysia saat ini cenderung fluktuatif, namun cukup tinggi.

Terlebih para pedagang besar yang membawa kopi liberika ke Malaysia tidak menyortir kopi yang dipanen petani, baik buahnya yang berukuran besar, kecil atau tidak sengaja tercampur buah mentah. 

Lebih lanjut diungkapkan, sebanyak 90 persen kopi liberika Meranti ditampung pasar Malaysia, dan hanya 10 persen saja yang menembus pasar lokal.

Pada tahun 2016 lalu, ekspor kopi liberika Meranti ke Malaysia mencapai 71 ton dalam bentuk green bean atau setara dengan 800 ton buah segar.

"Pengiriman yang kami lakukan melalui kapal lintas batas. Dalam satu tahun itu kita mengirim sebanyak dua kali, itu pun tergantung musim panen. Sekarang ini hasil panen menurun karena intrusi air laut, tahun 2018 hanya 45 ton," katanya.

Baca: Anaknya Tak LOLOS di SMA Negeri 1 Pekanbaru, Tiwi Ungkap KECURANGAN Ini, Disdik Terima 106 PENGADUAN

Baca: Bandar dan PENGEDAR Sabu-sabu di Riau Ditangkap Polisi, Si Bandar Teriaki Polisi RAMPOK dan Kabur

Baca: 32 Caleg Terpilih DPRD Riau TERANCAM Tidak Dilantik, 32 Wakil Rakyat Lolos Pileg 2019 Posisi Aman

Hakim menceritakan melalui Balai Penelitian Tanaman Industri (Balitri) Kementerian Pertanian meminta kepada petani kopi Liberika Meranti untuk memasok kopi ke luar negeri sebanyak 200 ton perbulan.

"Melalui Balittri kita pernah ditawarkan untuk memenuhi permintaan kopi ke luar negeri sebanyak 200 ton perbulan, kita tidak sanggup," kata Hakim.

Penolakan itu bukan tanpa alasan, menurutnya, untuk memenuhi permintaan tersebut, luas hamparan kebun kopi di Meranti harus 20.000 hektar.

"Bukan kita tak sanggup memenuhi permintaan itu, untuk memenuhi permintaan 200 ton perbulan, kita harus memiliki luas kebun kopi sebesar 20 ribu hektar. Saat ini luas kebun kopi kita 1500 hektar, untuk itu kita butuh lagi pengembangan," ujarnya.

Meski ramai dipasaran negeri jiran, dan pemintaan dari daerah lainnya, namun peminat kopi Liberika Meranti masih sepi di negeri sendiri.

Butuh perjuangan panjang bagi kelompok tani kopi mempromosikan kopi asli Meranti itu.

"Kita sedang gencar- gencarnya lakukan promosi, untuk itu kita juga perlu dukungan dinas terkait untuk memasarkan kopi ini," kata Hakim.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkopukm), Mohammad Azza Fahroni mengatakan terkait pemasaran kopi tersebut pihaknya akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan MPKLRM.

Baca: RUMAH KOS di Pekanbaru Diduga Dijadikan TEMPAT MESUM dan Pesta Narkoba, Warga Sekitar Resah

Baca: INI SOSOK Calon Menteri Kabinet Kerja Jilid II dari Riau, Namanya Disebut Relawan Jokowi-Maaruf Amin

Baca: PENDAFTAR ke SMP Negeri di Siak Riau Ini Hanya 12 Orang, Banyak Sekolah yang Pendaftarnya Membludak

"Mereka belum ada melapor ke dinas. Tapi nanti kita akan segera berkoordinasi dengan mereka dan menghimbau mereka untuk mengurus SKA," ungkap Azza.

Lebih lanjut dijelaskan Azza pihaknya akan membantu mengembangkan kopi tersebut melalui Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM).

"Kita akan kembangkan dan kita bantu meningkatkan kualitas kopi tersebut. Dari segi kualitas masih kurang, untuk itu tahun ini akan kita bantu mereka mesin sortir," ungkap Azza.

FEATURE Kopi Liberika Meranti Riau, Komoditas Lokal Kualitas Ekspor, Tembus Pasar Malaysia Sejak 1980. (Tribunpekanbaru.com/Teddy Tarigan)

Penulis: Teddy Tarigan
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved