Rokan Hulu

Petani Rokan Hulu Riau Mengeluh Harga TBS Sawit Rp 700 Per Kg

Petani di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul mengeluhkan anjloknya harga sawit yang berkisar Rp 700 hingga Rp 800 per kg.

Petani Rokan Hulu Riau Mengeluh Harga TBS Sawit Rp 700 Per Kg
Tribun Pekanbaru/Donny Kusuma Putra
Harga TBS Kelapa Sawit di Rohul membuat petani menjerit. 

TRIBUNROHUL.COM, PASIRPANGARAIAN - Petani di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul mengeluhkan anjloknya harga sawit yang berkisar Rp 700 hingga Rp 800 per kg.

Plt Kepala Dinas Perternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Rohul, Sri Hardono angkat bicara terkait harga TBS kelapa sawit di Kabupaten Rohul, yang masih tidak berpihak kepada petani.

Umumnya, yang merasakan dampak dari anjloknya harga TBS kelapa sawit ini adalah petani kelapa sawit dengan status kebun pribadi.

Sri Hardono mengungkapkan, berdasarkan penetapan harga TBS yang ditetapkan bersama tim penetapan harga TBS kelapa sawit Provinsi Riau, untuk periode 10 hingga 16 Juli 2019 penurunan harga sawit tidak terlalu signifikan yakni sekitar Rp 32,41/kg untuk umur 10-20 tahun.

Harga yang ditetapkan tersebut, menjadi standar harga pembelian TBS di seluruh Perusahaan Kelapa Sawit (PKS) di Riau.

Terlepas dari adanya ketetapan harga tersebut, diakuinya, fakta di lapangan menunjukan, masih banyak petani sawit di Rohul yang mengeluhkan murahnya harga TBS yang bahkan telah menyentuh harga terendah yakni diantara Rp 700 hingga Rp 800 per kgnya.

Sri Hardono menyebut, ada 3 faktor yang mempengaruhi anjloknya harga TBS kebun pribadi, seperti rendahnya rendemin TBS karena perawatan yang tidak sesuai standar, adanya biaya lansir karena lokasi kebun yang jauh dan menjual kepada pengepul yang pastinya harganya di bawah harga pabrik.

"Karena panjangnya alur distribusi inilah menyebakan biaya yang dikeluarkan petani untuk menjual ke Pabrik pun semakin besar sehingga berdampak kepada harga jual TBS itu sendiri," kata Sri Hardono, kemarin.

Untuk itu Sri Hardono menyarankan ke depan para petani kebun pribadi, agar dapat mengurus Surat Tanda Daftar perkebunan (STDP) agar bisa menjual TBS ke pabrik dan pabrik tidak bisa menekan harga.

Meski demikian, sambung Sri Hardono mengakui secara global harga TBS mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan karena anjloknya harga CPO khususnya yang berasal dari Indonesia. (Tribunpekanbaru.com/donny kusuma putra)

Penulis: Donny Kusuma Putra
Editor: Nurul Qomariah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved