Kasus Pencabulan di Pondok Pesantren Oleh Pimpinan dan Guru di Lhokseumawe, Korban Kian Bertambah

Kasus Pencabulan di Pondok Pesanteren yang membuat geram Indonesia yang dilakukan Oleh Pimpinan Pesantren dan Guru di Lhokseumawe, kini Korban semakai

Kasus Pencabulan di Pondok Pesantren Oleh Pimpinan dan Guru di Lhokseumawe, Korban Kian Bertambah
net
Kasus Pencabulan di Pondok Pesanteren Oleh Pimpinan dan Guru di Lhokseumawe, Korban Kian Bertamabah 

Kasus Pencabulan di Pondok Pesanteren Oleh Pimpinan dan Guru di Lhokseumawe, Korban Kian Bertamabah

TRIBUNPEKANBARU.COM – Kasus Pencabulan di Pondok Pesanteren yang membuat geram Indonesia yang dilakukan Oleh Pimpinan Pesantren dan Guru di Lhokseumawe, kini Korban semakin bertamabah.

Sekarang mengenai kasus pencabulan di Pondok Pesanteren di Lhokseumawe, penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Lhokseumawe menyebutkan, jumlah korban pelecehan seksual yang dilakukan pimpinan pesantren dan guru di Lhokseumawe bertambah. Samapai saat ini, sudah enam orang yang mengaku menjadi korban.

Kepala Unit PPA Ipda Lilis mengatakan,terkait Kasus Pencabulan di Pondok Pesanteren di Lhokseumawe ini, ada satu korban lagi yang memberikan pengakuan kepada polisi.

Namun, sebelum memberikan keterangan, korban mendapat terapi oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PTP2A) Banda Aceh setelah menjadi korban pada kasus pencabulan di Pondok Pesanteren di Lhokseumawe.

“Kemarin lima orang sudah kita mintai keterangan. Hari ini, ada satu orang lagi yang akan dimintai keterangan," kata Lilis saat dihubungi, Senin (15/9/2019).

Baca: Terbakar Sejak Jumat Lalu, Lahan PT Ekawana Mulai Padam Dibantu Guyuran Hujan

Baca: Rey Utami Pakai Baju Tahanan Digiring ke Penjara, Wajahnya Begitu Pucat, Pucet Banget Rey

Baca: Baru Bangun Tidur, Ibu Ini Langsung Teriak Lihat Aksi Bejat Suami, Mertua Pingsan Saat Tahu Kejadian

Menurut Lilis, sebelumnya sudah teridentifikasi ada lebih dari 15 korban pencabulan. Namun, baru lima yang telah diperiksa.

Saat ini, mayoritas korban masih mengalami trauma berat. Para korban yang merupakan santri tersebut diberikan pendampingan psikologis.

Mereka mengalami trauma berupa perasaan minder dan malu untuk bergaul dengan teman sebayanya.

“Trauma itu seperti korban minder, terus merasa diri kotor setelah mengalami pelecehan seksual itu dan malu. Itu yang didampingi tim PTP2A Banda Aceh,” kata Lilis.

Halaman
1234
Editor: Hendri Gusmulyadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved