Harga TBS Sawit di Riau Kembali Alami Penurunan

Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Riau kembali mengalami penurunan, untuk periode harga 17 - 23 Juli tahun 2019.

Harga TBS Sawit di Riau Kembali Alami Penurunan
Tribun Pekanbaru/Fernando Sikumbang
Truk pengangkut TBS Sawit melintas di Jalan Bukit Raya Datuk, Kota Dumai. 

PEKANBARU,TRIBUN - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Riau kembali mengalami penurunan, untuk periode harga 17 - 23 Juli tahun 2019.

Kasi Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Provinsi Riau, Tengku Neni Mega Ayu menyebutkan, harganya turun sebesar Rp 11,61 setiap kilogram dari harga pekan sebelumnya.

"Pekan lalu harga TBS Rp 1.325,25 per kilogramnya, karena turun Rp 11,61 per kilogramnya maka harga TBS umur 10-20 tahun menjadi Rp1.313,64 per kilogramnya," ujar Tengku Neni kepada Tribun, Rabu (17/7/2019).

Penurunan terjadi pada setiap kelompok umur kelapa sawit. "Tapi jumlah penurunan terbesar dialami oleh kelompok umur 10 - 20 tahun," ucapnya.

Penyebab penurunan itu jelas Tengku Neni, dipengaruhi oleh turunnya harga jual CPO dan kernel dari hampir seluruh perusahaan sumber data mereka.

Hanya harga jual kernel dari Sinar Mas Group yang mengalami kenaikan. Untuk harga jual CPO dari PTPN V mengalami penurunan sebesar Rp139,37 setiap kilogramnya, Sinar Mas Group mengalami penurunan sebesar Rp181,67 setiap kilogramnya.

Kemudian Asian Agri Group mengalami penurunan sebesar Rp128,57 setiap kilogramnya, dan PT. Citra Riau Sarana mengalami penurunan sebesar Rp65,80 setiap kilogramnya.

Sementara untuk harga jual kernel, Sinar Mas Group mengalami kenaikan sebesar Rp 61,25/Kg, Asian Agri Group mengalami penurunan harga sebesar Rp 108,00/Kg, dan PT Citra Riau Sarana mengalami penurunan sebesar Rp 65,27/Kg dari harga minggu lalu.

Faktor eksternal yang mempengaruhi penurunan harga TBS periode ini karena terjadinya proyeksi permintaan yang masih lesu. Sehingga harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) kembali melemah.

Ekspor yang melemah itu jelasnya berpotensi membuat stok minyak sawit naik dan menyebabkan faktor fundamental (pasokan-permintaan) semakin timpang.

"Otomatis harga akan mendapat tekanan lebih lanjut. Namun produksi perkebunan sawit yang diprediksi turun di tahun 2019 membuat harga CPO masih memiliki peluang untuk naik," katanya. (rsy)

Penulis: Rino Syahril
Editor: kasri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved