Breaking News:

Proyek Berbiaya Rp10 M Belum Selesai Dibangun, Lantai Jembatan Sudah Melengkung

Proyek jembatan di Desa Penaga, Teluk Bintan ini masih dalam pengerjaan dan belum selesai, namun sudah dinyatakan gagal.

tribun batam
Jembatan di Tanah Merah, Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, terlihat melengkung. Jembatan yang pembangunannya belum selesai ini memakan anggaran Rp10 miliar lebih, dan dinyatakan gagal. 

tribunpekanbaru.com - Proyek pengerjaan Jembatan Tanah Merah, Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, tidak selesai pada waktu yang ditentukan. Sebab lantai jembatan yang menghubungkan Kampung Tiram dan Kampung Tanah Merah itu kini amblas dan melengkung.

Pembangunan jembatan itu memakan anggaran sekitar Rp10 miliar lebih dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), melalui Badan Pengusahaan (BP) Bintan tahun 2018. Seorang pekerja di lapangan mengakui lantai jembatan yang dibangun itu amblas sehingga terlihat melengkung.

"Iya, lantai jembatannya amblas, sebab lantainya terlihat turun," terang pria yang tidak ingin namanya disebutkan itu, Jumat (19/7).

Dia juga menjelaskan, lantai jembatan yang amblas itu dikerjakan oleh kontraktor lama. "Sementara saat ini, pengerjaan jembatan dilanjutkan oleh kontraktor baru tahun 2019 ini," ucapnya.

Kepala BP Bintan Saleh Umar ketika dikonfirmasi mengatakan belum mengecek ke lapangan. "Coba tanya ke pada Pak Bayu. Pak Bayu yang tahu teknisnya dan punya pengawas sendiri. Saya belum cek," terang Saleh.

Anggota Bidang Sarana dan Prasarana BP Bintan, Bayu Wicaksono, membenarkan lantai jembatan Tanah Merah amblas dan melengkung. Akibatnya, pihaknya memutus kontrak PT Bintang Fajar Gemilang yang mengerjakan konstruksi pertama jembatan.

Setelah dilakukan penghitungan bersama, hanya beberapa pekerjaan yang dianggap layak untuk dibayarkan. "Kita sudah putus kontrak kontraktor pertama. Sebab kita tidak bisa terima pekerjaannya yang tidak layak dan baik," tutur Bayu.

Ditambahkan, lantai jembatan dianggap tidak layak dan gagal produksi sehingga tidak dibayarkan. Kondisi itu bisa dikatakan reject, ada kewajiban dan tanggung jawab yang tidak dilaksanakan dengan baik. "Karena itu kita sanksi denda, bahkan jaminan pelaksanaan kita klaim tagih dan cairkan," terang Bayu.

Dari nilai kontrak sekitar Rp10 miliar lebih, setelah dilakukan penghitungan bersama di lapangan, maka pekerjaan yang dinilai layak untuk dibayarkan hanya sekitar 30 persen atau sekitar Rp3 miliar lebih. Karena sudah gagal, konstruksi lantai beton jembatan dan lantai jembatan akan dibongkar.

"Kita akan bongkar dan buang semua, bersihkan. Lalu diganti dengan balok jadi atau balok cetak," ujar Bayu. (rin/tribun batam)

Penulis: rinaldi
Editor: rinaldi
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved