Siak

Usung Kisah Tragis Putri Kaca Mayang,Sanggar Tasek Seminai Boyong Hadiah di Parade Tari Riau

Sanggar Tasek Seminai berhasil meraih berbagai juara pada parade tari tingkat Provinsi Riau.

Usung Kisah Tragis Putri Kaca Mayang,Sanggar Tasek Seminai Boyong Hadiah di Parade Tari Riau
istimewa
Pertunjukan tari tentang kisah Putri Kaca Mayang yang ditampilkan Sanggar Tasek Seminai, Kabupaten Siak di Gedung Purna MTQ Idrus Tintin Pekanbaru, Sabtu (20/7/2019) malam. 

TRIBUNSIAK.COM, SIAK - Sanggar Tasek Seminai berhasil meraih berbagai juara pada parade tari tingkat Provinsi Riau, akhir pekan kemarin. Sanggar ini merupakan sanggar kebanggaan warga Kabupaten Siak, karena komitmen menjaga seni tari tradisi Melayu Siak.

Ajang tari yang ditutup pada Sabtu (20/7/2019) malam itu menjadi kebahagiaan penari dan crew sanggar. Sebab, mereka berhasil memenangkan kategori penata terbaik II, musik terbaik I, penata rias dan busana terbaik III dan penyaji terbaik II.

Ketua Sanggar Tasek Seminai, Andrio Saputra, Minggu (21/7/2019) mengatakan, pada kegiatan itu Kabupaten Siak mengirimkan 23 penari dan pemusik.

Tema tari yang ditampilkan tentang peninggalan sejarah yang jauh sebelum adanya Kerajaan Siak, yakni Kerajaan Gasib. Pada kerajaan itu ada seorang putri raja cantik jelita bernama Putri Kaca Mayang.

"Karya ini lebih mengedepankan tentang konflik batin yang dirasakan sang putri. Kondisinya merasa terkungkung dan sedih karena peristiwa yang sedang dialaminya yang ingin memberontak namun tak ia mampu," kata Andrio.

Keinginan Putri Kaca Mayang untuk kembali ke Tanah Gasib setelah diculik Raja Aceh seakan mustahil.

Kendati demikian, sang putri tetap mencari jalan untuk pulang meski berbahaya. Dari pada berputih mata, lebih baik berkalang tanah, putri pun menguatkan tekad.

Akhirnya ia berhasil kembali namun dalam keadaan sudah tidak bernyawa lagi. Putri Kaca Mayang wafat saat mencari jalan perjuangannya untuk pulang ke Tanah Gasib.

Berdasarkan cerita itu karya ini digarap dalam tatanan gerak Melayu yang masih berkembang di Riau hingga saat ini. Seperti lenggang dan silat, serta didukung oleh properti berupa rangkaian bambu membentuk segitiga.

Menurut Andrio, itu merupakan simbol dari konflik yang saling terkait antara tiga insan yaitu Putri Kacang Mayang, Raja Aceh dan Raja Gasib.

Halaman
12
Penulis: Donny Kusuma Putra
Editor: Nurul Qomariah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved