Artikel

Hari Anak Nasional 2019: Mengubah Dampak Negatif Gadget Menjadi Cinta Baca Pada Anak-Anak

Fenomena yang terjadi saat ini, bayi yang baru lahirpun sudah mulai diperkenalkan gadget oleh orang tuanya untuk menghadirkan film kartun.

istimewa
Eva Silaban: penulis dan pemerhati anak, pendiri Komunitas Kopi Pena 

Jurnal The Asianparent.com menjelaskan stimulasi berlebih dari gadget pada otak anak yang sedang berkembang, dapat menyebabkan keterlambatan kognitif, gangguan dalam proses belajar, tantrum, meningkatkan sifat impulsif, serta menurunnya kemampuan anak untuk mandiri.

Sebanyak 9% anak berusia 11-13 tahun yang setidaknya menghabiskan satu jam dalam sehari di depan layar gadget, akan kehilangan rasa ingin tahunya akan hal-hal baru di lingkungannya. Angka ini bahkan naik menjadi 22.6% khusus untuk mereka yang menghabiskan waktunya di depan layar lebih dari 7 jam dalam sehari. Dampak negatif penggunaan gadget juga dimulai dari contoh yang tidak baik oleh orang dewasa kepada anak-anak.

Satu diantara tren kekinian ialah eksistensi keluarga saat mengunjungi suatu restoran. Pemandangan orangtua dan anak dengan gadget masing-masing tanpa saling berbicara satu sama lain. Orangtua akan membiarkan anak-anak bermain game lalu orangtua melakukan update status di sosial media dengan menu makanan yang dipesannya. Ironi bukan?

Selain berkurangnya quality time keluarga, pengaruh gadget ini turut mengurangi minat baca anak. Kemunduran minat baca ini ditimbulkan karena orangtua terlalu terkesan membiarkan anak-anak berlama-lama menggunakan gadget. Pengaruh negatif penggunaan gadget terhadap menurunnya minat baca anak ini memang sangat kuat.

Menyadur studi yang dilakukan Central Connecticut State University pada tahun 2016 mengenai 'Most Literate Nations in The World" menyebutkan Indonesia menempati urutan ke-60 dari total 61 negara, atau dengan kata lain minat baca masyarakat Indonesia disebut-sebut hanya sebesar 0,01 persen atau satu berbanding sepuluh ribu.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan penggunaan internet yang mencapai separuh dari total populasi penduduk Indonesia atau sekitar Rp 132,7 juta (Suara.com, 21 Februari 2018).

Mengenang sejarah lahirnya hari anak nasional yang diperingati setiap 23 Juli, mengingatkan kita terhadap perlindungan anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal.

Hari anak ini berawal dari gagasan Presiden kedua Indonesia yaitu Soeharto yang mengatakan bahwa anak-anak merupakan aset kemajuan bangsa. Di samping itu, peringatan HAN (Hari Anak Nasional) juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran si anak akan hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya kepada orangtua, masyarakat, lingkungan serta kepada bangsa dan negara.

Peringatan HAN ( Hari Anak Nasional ) merupakan kesempatan untuk terus mengajak seluruh komponen warga atau bangsa Indonesia, baik itu orangtua, keluarga, masyarakat termasuk dunia usaha, maupun pemerintah dan negara, untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 yaitu tentang Perlindungan Anak, yang isi undang-undang tersebut melakukan upaya perlindungan dan mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya dan perlakuan tanpa diskriminasi, (Netralnews.com, 23 Juli 2016).

Sesuai dengan undang-undang tersebut, maka kita dapat mengetahui bahwa anak punya hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara wajar. Lalu anak juga memiliki hak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Dengan demikian, lingkungan sekitar harus memberikan dukungan kepada anak dalam memperoleh hak tersebut.

Halaman
123
Editor: Firmauli Sihaloho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved