Artikel

Hari Anak Nasional 2019: Mengubah Dampak Negatif Gadget Menjadi Cinta Baca Pada Anak-Anak

Fenomena yang terjadi saat ini, bayi yang baru lahirpun sudah mulai diperkenalkan gadget oleh orang tuanya untuk menghadirkan film kartun.

istimewa
Eva Silaban: penulis dan pemerhati anak, pendiri Komunitas Kopi Pena 

Sebagai refleksi peringatan Hari Anak Nasional hari ini, kita harus menyadari betapa pentingnya peran kita kepada anak-anak Indonesia. Anak-anak harus dipersiapkan dan diperlihara sebaik mungkin agar kelak dapat menjadi penerus bangsa yang dapat diandalkan. Mereka harus diberikan bekal pengetahuan sejak dini yaitu dimulai dengan gemar membaca.

Selain dukungan sekolah dan lingkungan, pemilik tanggung jawab terbesar bagi anak-anak adalah orangtua. Semua harus berawal dari rumah. Dimulai dengan literasi keluarga sederhana seperti membacakan buku bagi anak-anak sejak dini, menyiapkan rak buku anak agar sewaktu-waktu mereka dapat mengambil dan membaca buku kesukaannya, memberi contoh bahwa orangtua juga mencintai buku.

Hal itu akan menunjukkan bahwa membaca adalah aktifitas yang mengasyikkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain dukungan kebiasaan tersebut, pemerintah juga harus memperhatikan kebutuhan buku-buku di perpustakaan yang cocok buat anak-anak, mengingat betapa mahalnya buku bacaan anak-anak dengan kualitas kertas yang cukup bagus.

Seperti di Jawa Timur, membudayakan gemar membaca dilakukan dengan penyediaan sarana perpustakaan yang bermutu dan mudah diakses. Saat ini, Jawa Timur memiliki 27.545 perpustakaan yang terdiri dari 3.341 perpustakaan desa, 17.946 perpustakaan sekolah, 305 perpustakaan perguruan tinggi, dan 4.378 perpustakaan rumah ibadah. Selain itu, ada juga 1.046 perpustakaan pondok pesantren dan 529 perpustakaan dinas/ instansi, (Republika.co.id, 06 November 2017).

Selain dukungan perpustakaan yang menyediakan buku, pemerintah juga harus melengkapi kebutuhan perpustakaan digital dengan koleksi buku dalam format digital yang bisa diakses dengan komputer. Lalu, seiring dengan kemajuan teknologi saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran gadget memang memiliki segudang manfaat seperti mudahnya mengakses segala informasi. Khususnya dalam memberikan ruang pada anak-anak untuk dapat belajar.

Namun pemberian gadget, sudah seharusnya dibatasi dan penuh pengawasan oleh orangtua agar menghindari dampak negatif yang ditimbulkan. Usia anak yang layak mengenal teknologi juga perlu diperhatikan.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP) dalam jurnal yang ditulis pada hellosehat.com, memperkenalkan teknologi pada anak sebaiknya menunggu sampai anak berusia prasekolah (sekitar usia 3 tahun ke atas) dan mendapatkan pengawasan dari orangtua.

Aplikasi seperti wattpad, ebooks dan aplikasi bacaan digital lainnya seharusnya dapat menumbuhkan rasa cinta membaca pada diri anak-anak.

Dengan demikian, mengubah dampak negatif penggunaan gadget, tentu akan menjadikan anak-anak menjadi generasi cinta baca dan tidak akan kehilangan masa depan yang berharga.

Selamat Hari Anak Nasional.

Editor: Firmauli Sihaloho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved