Warga Minta Semburan Gas Akibat Pengeboran Minyak Ilegal di Aceh Timur Segera Ditutup

Semburan gas akibat pengeboran minyak ilegal itu terjadi di Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur, sejak 30 Juli lalu.

Warga Minta Semburan Gas Akibat Pengeboran Minyak Ilegal di Aceh Timur Segera Ditutup
Serambi Indonesia
Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) dan tim teknis memeriksa semburan gas di sumur bekas milik PT Asamera dalam areal perkebunan sawit milik PT PPP di Gampong Seuneubok Lapang, Peureulak Timur, Aceh Timur. 

tribunpekanbaru.com - Warga minta pemerintah segera menutup semburan gas di Dusun Cinta Damai, Gampong Seuneubok Lapang, Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur. Insiden semburan gas itu terjadi sejak 30 Juli 2019 di sumur minyak bekas milik PT Asamera.

"Kami berharap pemerintah segera melakukan penutupan sumur sebelum terjadi dampak yang merugikan masyarakat," harap Idris Yacob, Keuchik (Kepala Desa) Gampong Seunebok Lapang, Kecamatan Peureulak Timur, Sabtu (3/8) lalu.

Dia mengatakan, semburan gas itu sudah disurvei Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama Kapolres Aceh Timur, AKBP Wahyu Kuncoro akhir pekan kemarin. Kapolres, katanya, mengimbau masyarakat tidak lagi melakukan pengeboran minyak ilegal, karena berisiko menimbulkan korban.

"Semburan gas akibat pengeboran minyak ilegal sudah dua kali terjadi, sehingga Kapolres mengimbau kejadian serupa tidak terulang kembali," jelas Idris Yacob.

Dia menambahkan, pengeboran minyak ilegal dalam area perusahaan perkebunan sawit milik PT PPP ini tidak diketahui pelakunya, karena dilakukan diam-diam.

"Dari survei BPMA, tidak ada gas beracun tapi tekanan gas tidak beraturan, jadi kami imbau warga agar tidak mendekati lokasi semburan radius 25 meter. Kita juga imbau warga tidak membawa benda yang berpotensi memicu kebakaran," ujar Idris.

Camat Peureulak Timur, Mukhtaruddin Yusuf, juga mengharapkan pemerintah dan dinas terkait segera melakukan penutupan. "Kita mohon secepatnya ditutup agar tidak menimbulkan dampak bagi masyarakat dan lingkungan," katanya.

Humas Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) Aceh, Akhyar, mengatakan, saat ini pihaknya sedang koordinasi dengan Pemkab Aceh Timur dan Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Aceh. "BPMA dan tim teknis Medco sudah survei melihat kandungan gas. Setelah kita ukur, tidak ada gas berbahaya," jelasnya.

Semburan itu, katanya, mengandung gas hidrokarbon bersifat basah yang banyak mengandung air, lumpur, dan garam, serta 20 persen oksigen. "Kita imbau warga tidak mendekati semburan gas dan tidak membawa benda yang berpotensi memicu kebakaran," jelas Akhyar.

Pihaknya terus memantau tekanan gas apakah turun atau naik, karena dalam kasus ini bisa saja tekanan gas menurun dan berhenti sendiri. "Tapi berhenti sendiri atau tidak, tindakan akhir tetap akan ditutup," jelasnya.

Ditambahkan, lokasi semburan gas di luar wilayah kerja Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), atau berada di wilayah terbuka yang jadi tanggung jawab pemerintah. (rin/serambi)

Penulis: rinaldi
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved