Dokter Sri Rizki Malau, Wanita Penjaga Kesehatan di Lokasi Karhutla

Di tengah para petugas pemadam gabungan yang seluruhnya pria, terselip satu wanita yang bertugas menjaga kesehatan para pemadam tersebut.

Dokter Sri Rizki Malau, Wanita Penjaga Kesehatan di Lokasi Karhutla
tribun pekanbaru
Dokter Sri Rizki Malau, memeriksa kesehatan Kalaksa BPBD Inhil, Yuspik, yang berkunjung ke posko karhutla Desa Kerta Jaya, Kecamatan Tempuling, Senin (5/8) lalu. 

tribunpekanbaru.com - Menjadi satu–satunya perempuan di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tidak membuat semangat Sri Rizki Malau surut dalam memberi kontribusi pada penanggulangan Karhutla di Riau. Sri Rizki Malau justru tampak cekatan, tidak kalah dengan petugas pria.

Namun tidak dalam memadamkan api atau pendinginan lahan. Perempuan 27 tahun asal Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) ini, cekatan melayani petugas yang datang ke Posko Kesehatan milik PT SRL Estate Bayas Jaya Inhil.

Seperti terlihat di lokasi karhutla Desa Kerta Jaya, Kecamatan Tempuling, Senin (5/8) siang lalu. Dokter muda lulusan Universitas HKBP Nommensen Medan ini, melayani petugas yang memeriksakan kesehatan, berkonsultasi atau hanya sekedar meminta obat.

“Suka dukanya setiap hari kena asap. Saya sampai di sini karena saya lebih peduli dengan orang (petugas) yang ada di dalam sana (lokasi Karhutla),” ujar Sri kepada Tribun.

Sejak karhutla kembali melanda Riau khususnya Indragiri Hilir (Inhil), Sri memang ditugaskan di posko kesehatan PT SRL, yang berada berdekatan dengan posko karhutla PT SRL di sekitar lokasi pemadaman.

Sri yang sehari–hari bertugas di klinik milik PT SRL, sudah ditugaskan di posko kesehatan itu sejak Sabtu (3/8) lalu. “Posko ini berdiri sekitar seminggu, tapi saya di sini sejak tiga hari lalu. Pagi sampai sore stand by di sini,” tuturnya.

Beberapa hari di posko kesehatan, menurutnya petugas pemadam yang merupakan gabungan dari beberapa instansi, rata–rata mengeluhkan sesak napas, pilek, dan penyakit kulit.

“Petugas rentan terkena infeksi saluran pernapasan karena karbon dari asap lebih banyak dari oksigen. Sakit kulit karena masuk ke lokasi yang basah sehingga lembab. Jadi kita kasih obat dan periksa, kalau masih bisa ditangani, kita ditangani di posko saja, kalau sudah parah kita bawa ke klinik,” ucap Sri.

Tidak hanya menangani petugas yang sakit, Sri juga bertugas menjaga kesehatan petugas pemadam yang tidak sakit.

“Setiap habis bertugas kita cek kadar oksigennya, kalau harus diberi tambahan kita tambah melalui tabung oksigen yang sudah disiapkan. Kita juga kasih multivitamin agar bisa terus bertugas,” terangnya. (odi)

Penulis: T. Muhammad Fadhli
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved