Yuan Melemah Atas Dollar, Awas Banjir Impor Barang dari China

Kadin Indonesia khawatir, pelemahan mata uang China, Yuan, atas Dollar AS akan membuat impor barang dari China ke Indonesia membanjir.

Yuan Melemah Atas Dollar, Awas Banjir Impor Barang dari China
internet
Simbol mata uang Yuan China 

tribunpekanbaru.com - Mata uang China, Yuan, sedang dalam tren melemah tajam terhadap Dolar AS sebesar 1,4%. Pada Senin (5/8/) lalu, Yuan bahkan menyentuh titik terlemah sejak Maret 2018.

Kondisi ini jadi sorotan dunia usaha di seluruh dunia, tak kecuali Indonesia. Nilai tukar Yuan yang lemah berarti ekspor China lebih kompetitif, mengingat produk Negeri Tirai Bambu jadi murah di pasar global. Sehingga diduga kuat pelemahan Yuan memang disengaja oleh pemerintah China.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Perdagangan, Benny Soetrisno mengatakan, ekspor China ke Indonesia diprediksi akan meningkat dengan lemahnya Yuan. Kondisi ini tentu jadi kekhawatiran bagi dunia usaha nasional.

"Daya saing mereka untuk ekspor semakin meningkat. Semakin banyak yang diekspor ke Indonesia," kata Benny dikutip CNBC Indonesia, Selasa (6/8).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari seperempat atau 28,49% produk nonmigas impor yang datang ke Indonesia pada tahun 2018 lalu, berasal dari China.

Barang yang paling banyak diimpor adalah telepon seluler (HS 8517) dengan nilai US$ 3,72 miliar tahun 2018. Mesin pengolah data otomatis (HS 8471) dengan total nilai US$ 1,65 miliar. Selebihnya adalah barang yang sebagian besar bahan baku produksi berbagai industri, elektronik, konstruksi, dan kimia.

Kemungkinan adanya lonjakan impor ini jadi kekhawatiran pengusaha dalam negeri. Mengenai langkah antisipatif, Benny menganggap perlu diterapkan kebijakan trade remedies, yang merupakan langkah pengendalian impor untuk mencegah praktik perdagangan tidak sehat yang merugikan dalam negeri.

"Lakukan trade remedies untuk produk yang sudah diproduksi industri dalam negeri," katanya.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Menko Perekonomian, Iskandar Simorangkir, menilai nilai tukar Yuan terhadap dolar AS yang merosot tajam bukan retaliasi terhadap perang dagang. Kondisi itu merupakan dampak suplai valuta asing (valas) yang turun sehingga turut mengerek Yuan.

Iskandar menjelaskan, pelemahan Yuan merupakan isu lama yang sudah terjadi di perekonomian global. Penyebab utamanya, kinerja ekpsor turun sehingga pertumbuhan ekonominya pun melambat menjadi 6,2 persen pada kuartal kedua, terendah dalam 27 tahun. "Jadi wajar kalau (Yuan) melemah," tuturnya Selasa (6/8).

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, menuduh China sengaja melemahkan mata uangnya. "Langkah itu untuk mencuri bisnis dan pabrik, melukai lapangan kerja, menekan tenaga kerja, juga harga para petani kita. Tak akan lagi!" kata Trump dalam cuitannya di Twitter.

Menko Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, tidak berani menyebut pelemahan Yuan terhadap dolar AS disengaja. Tapi dalam kondisi perang dagang, setiap negara terlibat dapat saja membuat kebijakan sendiri.

Dengan pelemahan Yuan, Darmin mengakui barang China akan lebih murah di pasar internasional. Karena itu, rencana pengenaan tarif 10 persen dari AS tidak akan berdampak signifikan pada ekonomi China.

Hanya saja, Darmin menambahkan, pelemahan Yuan akan berdampak pada mata uang negara lain yang berpotensi terseret ke bawah, termasuk rupiah. (rin/cnbc/rol)

Penulis: rinaldi
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved