Merdeka Berekspresi Lewat Perpustakaan Digital
Akses internet sudah menjangkau sekolah di Kota Pekanbaru. Para siswa pun bisa mengakses aneka konten di layar gawainya.
Penulis: Fernando | Editor: Hendri Gusmulyadi
TRIBUNPEKANBARU
Satu pohon yang terpasang QR Code di SMK Labor Binaan FKIP Universitas Riau. QR Code ini adalah bagian dari aplikasi Ecoliterasi dalam Perpustakaan M.Zein di sekolah itu. Tribun Pekanbaru/Fernando Sikumbang
Merdeka Berekspresi Lewat Perpustakaan Digital
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Akses internet sudah menjangkau sekolah di Kota Pekanbaru. Para siswa pun bisa mengakses aneka konten di layar gawainya.
Apalagi gawai tidak cuma untuk berselancar di dunia maya. Para siswa bisa mengakses koleksi buku di perpustakaan digital cukup lewat gawai.
Aneka koleksi buku digital menjadi referensi bagi para siswa di SMK Labor Binaan FKIP Universitas Riau Pekanbaru. Sekolah ini punya perpustakaan digital yang diberi nama M.Zein.
Ada 10.000 koleksi buku digital yang bisa diakses lewat digilib.smklabor.sch.id. Para
siswa bisa lebih merdeka berekspresi sembari menggiatkan literasi.
Seperti yang dirasakan Stefani. Siswa Kelas XII SMK Labor Pekanbaru ini bisa membaca aneka judul buku lewat laman perpustakaan digital itu.
Ia dengan mudah membaca buku novel lewat gawainya. Buku tersebut jadi inspirasi baginya saat menulis cerpen.
Buku genre sejarah pun dilahapnya lewat akses layanan perpustakaan digital.
"Lewat perpustakaan digital, saya jadi lebih mudah cari buku yang menginspirasi waktu menulis," paparnya kepada Tribun, Rabu (14/8/2019) kemarin.
Buku yang jadi inspirasi Stefani saat menulis adalah beberapa novel karya Fiersa Besari. Sejumlah buku itu menginspirasinya untuk menulis cerpen yang terangkum dalam kumpulan cerpen berjudul Goresan Putih Abu-Abu.
Sejumlah cerpen karya Stefani termaktub dalam kumpulan cerpen yang digarapnya bersama siswa dan guru di SMK Labor Pekanbaru. Ada beberapa judul karyanya dalam buku itu yakni Bangkit, Semu dan Cinta Tak Harus Memiliki.
"Ya memang penuh perjuangan menulisnya. Setelah jadi buku, kami semua senang sekali," paparnya
Kegemarannya membaca buku dan menulis cerpen membuat Stefani dinobatkan menjadi Duta Baca di sekolah itu. Maklum keberadaan perpustakaan digital di sekolahya makin mendorong untuk kreatif dan menggiatkan literasi.
Stefani tidak cuma menulis cerpen. Ia juga menulis puisi dan pantun.
Bagi Siswa Jurusan Adminitrasi Perkantoran keberadaan perpustakaan digital di sekolahnya membuat para siswa makin gemar membaca. Mereka tidak hanya mencari buku di dalam susunan rak.
Para siswa bisa mengakses perpustakaan digital lewat gawainya. Mereka pun bisa membaca di sejumlah pojok perpustakaan yang tersebar di areal sekolah.
"Perpustakaan digital ini membuat saya dan teman-teman lebih tertarik ke perpustakaan," paparnya.
Siswa Kelas XI SMK Labor Pekanbaru, Rohit tidak cuma merasakan mudahnya akses buku lewat perpustakaan digital. Ia juga bisa dengan mudah memperoleh informasi dari gawainya lewat aplikasi Ecoliterasi.
Aplikasi ini memudahkan Rohit memperoleh informasi cukup dengan memindai QR Code yang tersebar di tiap sudut sekolah. Pohon rindang dan tumbuhan yang ada di sekitar sekolah punya QR Code yang dapat dipindai.
"Saya cukup scan, nanti muncul di layar gadget informasi tumbuhan maupun bahan pelajaran di sekolah," jelas siswa jurusan Teknologi Kompter dan Jaringan.
Rohit dan rekannya di SMK Labor Pekanbaru tidak cuma dapat mengakses ribuan koleksi buku lewat digilib.smklabor.sch.id. Para siswa bisa meminjam buku dengan aplikasi Go Book.
Adanya aplikasi ini memudahkan para siswa untuk meminjam buku. Para siswa cukup mengakses aplikasi nantinya bisa memilih buku dan meminjamnya lewat Go Book.
Para laskar perpustakaan nantinya bakal mengantarkan buku itu. Namun peminjaman hanya bisa dilakukan saat siswa berada di areal sekolah.
Guru Teknologi Informasi SMK Labor Pekanbaru, Kurnia Agus Rahman menyebut ada tiga aplikasi yang diterapkan di Perpustakaan Digital M.Zein. Ada digilib.smklabor.sch.id, Go Book dan Ecoliterasi. Pembuatan aplikasi ini melibatkan guru dan siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak.
Ketiga aplikasi ini disiapkan secara bertahap hingga akhirnya bisa memudahkan para siswa mengakses perpustakaan digital. Mereka punya aplikasi digital library.
Pihak sekolah pun mempersilahkan siswa untuk membawa gawai ke sekolah.
Mereka bisa mengakses digital library lewat laman penjelajahan internet.
Ada 10.000 koleksi buku digital di sana. "Kami memang bolehkan bawa gawai, tapi penggunaannya terbatas untuk baca buku saja. Kalau di kelas tentu tidak boleh," paparnya.
Kurnia menyebut bahwa aplikasi perpustakaan digital sudah dirintis sejak tahun 2014 silam. Namun aplikasi ini mulai berfungsi secara optimal pada tahun 2018.
"Intinya aplikasi ini untuk memudahkan siswa membaca buku. Sebab gawai para siswa bisa terkoneksi ke aplikasi perpustakaan digital M.Zein," ujarnya.
Aplikasi lainnya yang memudahkan para siswa untuk belajar dan membaca buku adalah Ecoliterasi. Ia menyebut para siswa cukup mengunduh aplikasi ini di playstore.
Mereka bisa memindai QR Code yang ada di sekeliling sekolah. Banyak QR Code yang terpasang di tumbuhan sekitar SMK tersebut.
Saat memindainya, para siswa dapat mengetahui nama tumbuhan itu beserta nama latin dan informasi lainnya tentang tumbuhan tersebut. Aplikasi ini juga mengarahkan ke koleksi buku yang berhubungan dengan tumbuhan itu.
Aplikasi ini terbilang baru enam bulan digunakan. Tapi para siswa sudah dapat memanfaatkannya untuk mengakses informasi tentang sejarah tokoh nasional dan media pembelajaran.
Ada juga aplikasi Go Book, yang diadaptasi dari aplikasi pengantaran. Aplikasi ini untuk pengantaran buku di kawasan sekolah.
Anggota pustaka bisa meminjam buku tanpa harus ke pustaka. Mereka bisa lihat katalog buku digital yang ada.
Para siswa bisa memilih sesuai keinginan dan langsung masuk proses peminjaman.
Laskar perpustakaan yang bakal mengantar buku.
Jasa ini bisa dinikmati dari pagi hingga pukul 15.00 WIB. Para siswa juga punya aplikasi radio streaming.
Radio dengan konsep literasi bisa jadi wadah siswa untuk membedah buku. Radio ini bisa diakses secara online.
Kurnia menyebut bahwa laskar perpustakaan, yang merupakan perwakilan siswa diajak memahami teknologi perpustakaan. Mereka juga diajak untuk mengelola aplikasi yang ada.
"Jadi para siswa tetap gunakan gadget mereka. Tapi dengan adanya aplikasi mereka bisa gunakn gadget untuk akses yang lebih positif," jelasnya.
Aneka inovasi ini mengantarkan
Perpustakaan Digital M.Zein jadi wakil Riau untuk maju dalam Lomba Perpustakaan Sekolah/Madrasah Tingkat Nasional 2019.
Kepala Perpustakaan M.Zein, Latif menyebut bahwa perpustakaan digital ini merupakan perpustakaan sekolah pertama di Riau yang mengusung konsep digital.
Perpustakaan digital M.Zein juga jadi Perpustakaan Sekolah Terbaik di Riau tahun 2019.
Perpustakaan ini jadi satu-satunya perpustakaan sekolah di Riau yang maju dalam lomba tingkat nasional tahun ini.
Latif merinci bahwa perpustakaan sekolah ini punya empat ruang utama. Setiap ruang punya ciri khas dan koleksi buku yang berbeda.
Ruang Hang Nadim terdapat ada gerai belajar perihal perbanka dan klinik literasi. Lalu ruang Hang Jebat berisi ruang baca anak, literasi budaya digital hingga radio online.
Kemudian ruang Hang Tuah terdapat ruang baca hening. Sedangkan di ruang Hang Kesturi ada ruang presentasi dan diskusi dan pajangan tentang kebudayaan Melayu.
Pihak sekolah bersama banyak pihak merintis perpustakaan dan giat literasi sejak tahun 2013 silam. Mereka menata perpustakaan yang dulunya cuma berupa rak buku hingga menjelma jadi banyak pojok literasi pada tahun 2016 lalu.
Ruang Hang Nadim terdapat ada gerai belajar perihal perbanka dan klinik literasi. Lalu ruang Hang Jebat berisi ruang baca anak, literasi budaya digital hingga radio online.
Kemudian ruang Hang Tuah terdapat ruang baca hening. Sedangkan di ruang Hang Kesturi ada ruang presentasi dan diskusi dan pajangan tentang kebudayaan Melayu.
Pihak sekolah bersama banyak pihak merintis perpustakaan dan giat literasi sejak tahun 2013 silam. Mereka menata perpustakaan yang dulunya cuma berupa rak buku hingga menjelma jadi banyak pojok literasi pada tahun 2016 lalu.
Bahkan kini sudah menjadi perpustakaan digital. "Kini perpustakaan ini sudah bertransformasi menjadi perpustakaan digital," jelasnya.
Sementara itu, Kepala SMK Labor binaan FKIP Universitas Riau, Hendripides menyebut bahwa sekolah ini berupaya menggiatkan literasi. Satu caranya dengan menghadirkan perpustakaan digital.
"Perpustakaan ini berbasis teknologi informasi. Ini adalah satu inovasi di perpustakaan SMK Labor," jelasnya.
"Perpustakaan ini berbasis teknologi informasi. Ini adalah satu inovasi di perpustakaan SMK Labor," jelasnya.
Ia menilai keberadaan perpustakaan digital mendapat apresiasi dari generasi milenial. Apalagi perpustakaan ini bisa diakses dimana saja.
Apalagi perpustakaan SMK labor sudah memperoleh akreditasi A. "Sistem perpustakaan yang digital ini mendukung kebutuhan saat ini, sering perkembangan teknologi informasi," terangnya. (Tribunpekanbaru.com/Fernando Sikumbang)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/foto-222.jpg)