Breaking News:

Lahan di Depan dan Belakang Kantor Terbakar, Asap Kepung Polsek Gunung Kijang, Bintan

Kebakaran lahan justru terjadi di lahan yang berada di depan dan belakang kantor Polsek Gunung Kijang, Bintan. Asap pun menyelimuti kantor tersebut.

tribun batam
Petugas pemadam memadamkan api yang membakar lahan di Toapaya Selatan, Bintan. Sejak Januari lalu, tercatat sudah ada 125 kasus karhutla yang terjadi di Bintan. 

tribunpekanbaru.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), sejak Minggu (18/8) siang lalu.

Kali ini, karhutla bahkan terjadi di dua titik, yakni lahan di depan dan belakang Kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Gunung Kijang. Akibat kebakaran lahan itu, asap sempat menyelimuti Polsek Gunung Kijang.

Asap akibat karhutla ini masih terlihat sampai Senin (19/8) pagi karena api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.

Meski begitu, tim gabungan terdiri dari TNI, Polri, Pemadam Kebakaran dan warga, terus berupaya memadamkan api yang menghanguskan lahan seluas lebih kurang 100 hektare tersebut.

"Kalau untuk kebakaran hutan dan lahan di depan dan belakang Polsek Gunung Kijang itu, luasnya diperkirakan hampir 100 hektare yang terbakar," tutur Nurwendi, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Damkar Toapaya yang membawahi Kecamatan Toapaya, Teluk Bintan, dan Gunung Kijang, Senin (19/8).

Dia juga menyebutkan, proses pemadaman api dilakukan oleh satu unit mobil Damkar UPT Toapaya. Sedangkan penyebab kebakaran lahan itu belum diketahui secara pasti. "Sampai saat ini belum diketahui," tutur Nurwendi.

Dia lantas mengingatkan masyarakat agar tidak membakar hutan demi kepentingan membuka lahan. Selain itu, warga juga diminta untuk tidak membakar sampah sembarangan. Jika ingin membakar sampah, dia minta warga benar-benar memperhatikan api sampai benar-benar padam agar tidak menjalar ke lahan lain.

"Tapi kalau bisa masyarakat tidak usah membakar sampah, cukup dengan membuang sampah pada tempatnya," kata Nurwendi.

Dia juga berharap supaya masyarakat bisa bekerja sama dengan petugas Damkar untuk ikut serta menjaga hutan agar tidak terbakar. Apalagi, saat ini cuaca panas sedang melanda wilayah Bintan yang mudah memicu terjadinya kebakaran lahan.

"Mari kita jaga bersama-sama hutan kita yang ada di Bintan ini agar tidak terbakar lagi seperti tiga bulan yang lewat. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi," katanya.

Nurwendi menjelaskan, sudah ada 125 kasus karhutla yang tercatat sepanjang 2019 ini di Kabupaten Bintan terhitung sejak Januari lalu. Kasus paling banyak terjadi pada Juli sampai Agustus ini, dan ini tak lepas dari cuaca panas yang melanda. Bahkan dalam satu hari, menurutnya, ada tiga titik karhutla sekaligus di beberapa lokasi.

Menurutnya, kejadian karhutla ini terindikasi karena unsur kesengajaan oleh manusia. Misalnya ada yang membakar sampah namun tidak diawasi sehingga apinya merambat ke lahan lain. Ada pula yang memang sengaja membakar untuk membuka lahan.

"Sangat disayangkan, sebab kita terbilang kewalahan melakukan pemadaman di beberapa titik walaupun memang dapat diatasi," tuturnya. (rin/tribun batam)

Penulis: rinaldi
Editor: rinaldi
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved