Kepulauan Meranti

444 Kasus ISPA Terjadi Selama Agustus 2019 di Kepulauan Meranti, Penyebabnya Kabut Asap di Riau

Data tersebut melalui 10 Puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah Kepulauan Meranti mulai 1 hingga 21 Agustus 2019.

444 Kasus ISPA Terjadi Selama Agustus 2019 di Kepulauan Meranti, Penyebabnya Kabut Asap di Riau
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
ILUSTRASI - Tim gabungan berusaha memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, tidak jauh dari gerbang masuk Camp Flying Squad WWF dan guest house Balai TNTN, Desa Lubuk Kembang Buga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Selasa (13/8/2019). (TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY). 

444 Kasus ISPA Terjadi Selama Agustus 2019 di Kepulauan Meranti, Penyebabnya Kabut Asap di Riau

TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI - Dinas Kesehatan (Dinskes) Kepulauan Meranti mencatat 444 kasus Inspeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di seluruh Kepulauan Meranti yang disebabkan oleh asap dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Kepala Dinkes Kepulauan Meranti melalui Kepala Bidang Yankes drg. Novi Indriani mengatakan bahwa data tersebut melalui 10 Puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah Kepulauan Meranti mulai 1 hingga 21 Agustus 2019.

Dari data tersebut, Novi mengaku bahwa belum terjadi peningkatan yang siginifikan terhadap penderita ISPA di Kepulauan Meranti.

Baca: Kecelakaan di Riau 5 Penumpang Tewas, Bus PMH Tabrak Truk Tronton yang Sedang Parkir di Km 18 Rohil

Baca: Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan ABG di Siak Riau, Baru Kenal Lewat FB Sudah Ngajak ke Rumah Kosong

Baca: Kalap Cuma Dijatah 1 Menit, Pembunuh ABG di Riau Pukul DS Pakai Cangkul Lalu Setubuhi Lagi Mayatnya

"Kalau peningkatan drastis sih belum, cuma ada kenaikan sedikit dari hari biasa yang tanpa asap," ujar Novi.

Selain ISPA dikatakan Novi ada penyakit lain yang diderita masyarakat karena asap Karlahut.

"Selain ISPA ada iritasi mata sama pneumonia tapi gak banyak hanya 1-3 kasus paling," ujar Novi.

Walaupun diakui bahwa belum ada peningkatan kasus secara signifikan, Novi mengingatkan agar masyarakat mengindari kegiatan yang berpotensi menimbulkan asap dan kebakaran.

"Menghimbau masyarakat agar jangan merun di setiap rumah. Kalau mau buang sampah buang ke tempat pembuangan di jalan rumbia. Kalau malas buang kesana galikan lubang untuk membuang sampah tersebut dan tutup kembali lubangnya. Kan bisa jadi pupuk alami juga," ujar Novi.

Selain itu Novi juga mengingatkan agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah bola kondisi udara tidak baik.

"Terus kurangi aktifitas diluar rumah, kalau memang butuh keluar pakai masker, dan banyak konsumsi air putih dan buah untuk meningkatkan imunitas tubuh," pungkas Novi. (tribunpekanbaru.com/ Teddy Tarigan)

Penulis: Teddy Tarigan
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved