Tim Gabungan di Inhil Tetap Siram Semak Belukar Agar Karhutla Tak Muncul Lagi

Tim gabungan karhutla di Inhil melakukan pendinginan dengan menyirami semak belukar, agar api tidak kembali muncul dan menimbulkan kabut asap.

Tim Gabungan di Inhil Tetap Siram Semak Belukar Agar Karhutla Tak Muncul Lagi
tribun pekanbaru
Tim Karhutla mendinginkan lahan di Parit Menanti Desa Sungai Rukam, Kecamatan Enok, Inhil. 

tribunpekanbaru.com - Koramil 02/Tanah Merah bersama Polri, BPBD Inhil, Manggala Agni dan masyarakat, masih melakukan proses pendinginan di Parit Menanti, Desa Sungai Rukam, Kecamatan Enok, Inhil, Rabu (28/8) lalu.

Petugas menyirami lahan gambut yang ditumbuhi semak belukar seluas lebih kurang 5 hektare tersebut, untuk melakukan pendinginan mengingat suhu panas yang berada di bawah permukaan tanah.

Danramil 02/Tanah Merah, Kapten (Inf) Rohadi Handoko mengatakan, tim gabungan dan masyarakat berada di lokasi, sebab proses pendinginan harus tetap dilakukan agar api tak kembali muncul.

“Ini tinggal tahap pendinginan saja. Berbekal peralatan seadanya seperti mesin Robin 3 unit, selang air 40 rol, parang 5 buah, cangkul 12 buah. Tapi tidak menyurutkan semangat tim untuk benar-benar memastikan api telah padam sampai ke bawah,” ujar Rohadi Handoko.

Menurutnya, kendala yang dihadapi petugas di lapangan saat proses pemadaman api adalah sulitnya menjangkau titik api, serta jarak tempuh yang dilalui menuju sasaran kebakaran dan sumber air yang terbatas.

"Jarak tempuh dan sulit dilalui, sehingga kita harus membuka jalan baru untuk ke titik api. Untuk sumber air di titik kebakaran juga sangat terbatas,” terangnya.

Menurut Rohandi, Satgas Karhutla Kecamatan Enok juga sudah mengimbau dan menyosialisasikan terkait bahaya pembakaran hutan dan lahan. Dengan begitu, diharapkan tidak ada lagi karhutla yang terjadi.

Selain itu, bagaimana cara mencegah dan sanksi apa yang di terima jika terbukti melakukan pembakaran juga sudah disampaikan kepada masyarakat.

“Kepada seluruh masyarakat Tanah Merah, Enok, agar menjaga alam dengan sebaik mungkin. Jangan ada lagi yang membuka lahan dengan cara membakarnya. Membakar lahan dapat merugikan orang banyak. Selain itu hukuman yang diterima juga tidak main-main, dua belas tahun penjara atau denda Rp12 miliar,” terangnya. (odi)

Penulis: T. Muhammad Fadhli
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved