Citizen Journalism

Globalisasi dan Revolusi Industri

Istilah revolusi industri teknologi sebenarnya pertama kali muncul pada tahun 2012, ketika pemerintah Jerman memperkenalkan strategi

Globalisasi dan Revolusi Industri
ist
Ade Wahyudi, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Islam Riau 

CITIZEN JOURNALISM

Ditulis oleh: Ade Wahyudi

Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota

Universitas Islam Riau

----------

Globalisasi dan Revolusi Industri

Revolusi industri 4.0 menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas saat ini. Era ini ditandai dengan munculnya internet of things (IoT), big data, artificial intelligence, cloud computing, komputerisasi,dll.

Istilah revolusi industri teknologi sebenarnya pertama kali muncul pada tahun 2012, ketika pemerintah Jerman memperkenalkan strategi pemanfaatan teknologi yang disebut dengan industrie 4.0.

Industrie 4.0 sendiri merupakan salah satu pelaksanaan proyek Strategi Teknologi Modern Jerman 2020 (Germany’s High-Tech Strategy 2020).

Strategi tersebut diimplementasikan melalui peningkatan teknologi sektor manufaktur, penciptaan kerangka kebijakan strategis yang konsisten, serta penetapan prioritas tertentu dalam menghadapi kompetisi global.

(Friedman, 2006) mencatat bahwa sejarah globalisasi terjadi dalam tiga periode: Globalisasi 1.0, Globalisasi 2.0, dan Globalisasi 3.0. Setiap periodisasi globalisasi tersebut selalu tersingkap kekuatan yang membuat dunia terus menerus berubah.

Dunia yang bulat dan memiliki geografi yang luas, dalam perkembangannya berangsur-angsur menjadi datar karena beberapa peristiwa sejarah, sehingga pada akhirnya membuat bumi semakin datar (The World Is Flat), karena sudah tidak ada lagi sekat-sekat penghalang yang membatasi interaksi.

Saat ini, Globalisasi telah memasuki era baru yang bernama Revolusi Industri 4.0. Klaus (Shwab, 2016) melalui The Fourth Industrial Revolution menyatakan bahwa dunia telah mengalami empat tahapan revolusi, revolusi Industri Pertama dimulai dengan adanya penemuan mesin uap dan mesin manufaktur pada abad 18.

Kemudian Revolusi Industri Ke-2 ditandai dengan adanya penemuan mesin listrik dan produksi massal dan standarisasi industri pada abad 19. Setelah itu pada abad ke 20 lahirlah Revolusi Industri Ke-3 yang ditandai dengan adanya komputer dan teknologi informasi. Revolusi Industri ke 4 atau 4.0 sendiri merupakan revolusi industri yang ditandai dengan pekerjaan yang banyak menggunakan internet, robot, dan kecerdasan buatan.

Disrupsi Revolusi Industri 4.0 Bagi Indonesia

Di era digitalisasi dan revolusi industri 4.0 seperti sekarang ini, pembangunan manusia khususnya generasi muda menjadi modal penting suatu bangsa dalam meningkatkan perekonomian di tengah kuatnya persaingan global.

Generasi muda dituntut untuk lebih proaktif dalam memanfaatkan teknologi dan internet sebagai salah satu upaya dalam menciptakan berbagai lapangan pekerjaan yang berbasiskan Information, Communication and Technology (ICT).

Revolusi Industri 4.0 secara fundamental mengakibatkan berubahnya cara manusia berpikir, hidup, dan berhubungan antara satu dengan yang lain. Dimana Era ini akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia dalam berbagai bidang, tidak hanya dalam bidang teknologi saja, namun juga bidang yang lain seperti ekonomi, sosial, dan politik.

Di sektor ekonomi telah terlihat bagaimana sektor jasa transportasi dari kehadiran taksi dan ojek daring, kita juga dapat merasakan bagaimana Gojek dapat merubah cara manusia membeli makanan, berpindah tempat, dan bahkan melakukan pembayaran dengan Fintech.

Hal yang sama juga terjadi di bidang sosial dan politik. Interaksi sosial pun menjadi tanpa batas (unlimited), karena kemudahan akses internet dan teknologi. Kemudian dalam bidang politik, ini dapat dihimpun melalui gerakan-gerakan berbasis media sosial dengan mengusung ideologi politik tertentu.

Namun, dibalik kemudahan teknologi dan informasi yang ditawarkan, ternyata Revolusi industri menyimpan berbagai dampak negatif jika tidak segera diatasi oleh pemerintah dan masyarakat, diantaranya ancaman pengangguran akibat otomatisasi, kerusakan alam akibat eksploitasi industri, serta masuknya tenaga kerja asing yang memiliki pengalaman dan keahlian yang jauh lebih baik daripada SDM di tanah air.

Oleh karena itu, kunci dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 adalah selain menyiapkan kemajuan teknologi dalam proses pembangunan, yang paling utama dilakukan adalah pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui pemberian pelatihan dan pendidikan berbasiskan software dan teknologi di sekolah-sekolah agar siswa/i memiliki hardskill yang dapat dijadikan modal dalam meningkatkan kualitas SDM dan berkontribusi dalam mengatasi masalah pengangguran.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 mencatat bahwa, dengan adanya Balai Pelatihan dan Pendidikan yang diberikan ke sekolah-sekolah maka, ekonomi di Indonesia tumbuh sekitar 5% yang juga diikuti dengan penurunan angka pengangguran sebesar 5,34% atau sekitar 40.000 jiwa/tahun.

Artinya, balai pelatihan dan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah memberikan dampak yang positif dan perlu ditingkatkan lagi, mengingat indonesia akan menghadapi puncak Bonus Demografi di tahun 2030.

Kondisi menjadi peluang sekaligus tantangan atau bencana bagi bangsa Indonesia apabila angkatan kerja yang siap bekerja tidak memiliki keterampilan dan keahlian dalam mengaplikasikan software dan programming.

Sehingga, tingginya populasi yang ada harus dibarengi dengan penguasaan software dan teknologi yang harus diajarkan sejak dini di sekolah-sekolah agar mereka memiliki bekal yang kuat dalam menghadapi persaingan global.

Namun, sebagai negara yang sedang berkembang, Negara Indonesia masih memiliki banyak tantangan dalam mewujudkan cita-citanya sebagai negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur (UUD 1945).

Hal ini dibuktikan dari penjelasan Bapak Presiden Jokowi pada hari buruh tanggal 1 Mei 2019, dimana International Labor Organization (ILO) mencatat bahwa 56% lapangan kerja terancam akan hilang karena digantikan oleh robot dan automasi.

Di era Revolusi Industri 4.0, berbagai jenis pekerjaan profesi diprediksi akan hilang dan digantikan dengan robot atau komputer. Sehingga, hal ini tentunya masalah yang sangat serius dan harus diantisipasi segera, mengingat Indonesia sedang mengalami fenomena Bonus Demografi.

Disamping itu, berdasarkan data dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) tahun 2018 mencatat bahwa produktivitas tenaga kerja Indonesia masih rendah dan laju pertumbuhan produktivitasnya lebih lambat dibandingkan negara ASEAN lainnya.

Angkatan kerja SMP ke bawah dan pekerja berkeahlian rendah masih mendominasi pasar kerja di Indonesia tahun 2018. Begitupula dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan pendidikan menengah lebih tinggi dari nasional.

Sehingga, masih terdapat kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia, terutama di sekolah-sekolah yang berada di pelosok tanah air. Untuk itu, hal ini harus mendapatkan perhatian dari pemerintah dan aktor pembangunan demi mewujudkan Agenda dan Paradigma Baru dalam Pembangunan yang dinamakan dengan “Transforming Our World in 2030”.

Dilematis yang Dihadapi Bangsa Indonesia

Sejatinya, semangat awal dari kemajuan teknologi adalah untuk mempermudah kehidupan manusia. Namun demikian, pada akhirnya segala kemudahan dari kemajuan ICT ini berdampak besar terhadap manusia, karena membuat penggunaan tenaga manusia berkurang secara signifikan.

Akibatnya, terjadi peningkatan jumlah pengangguran. Tepat pada titik inilah, maka perlu adanya sebuah paradigma pembangunan yang tidak saja meningkatkan kemampuan manusia di bidang teknologi saja, namun juga perlu meningkatkan mentalitas dan kapasitas sumberdaya manusia yang unggul melalui kegiatan pelatihan dan pendidikan berbasiskan pengembangan ICT sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah pengangguran dan menghadapi Puncak Bonus Demografi di 2030 mendatang.

Pada dasarnya, masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh bangsa ini, tidak dapat diselesaikan dengan cara-cara sama seperti dalam konsep yang lampau. Revolusi Indsutri 4.0 tidak mungkin hanya dihadapi dengan pengembangan teknologi tanpa melibatkan dinamika sosial di dalamnya.

Selain menyiapkan daya saing yang unggul, perlu dibangun kesadaran dan kedewasaan masyarakat dalam menyikapi perkembangan dunia saat ini, terutama di zaman post truth, ketika informasi yang mengalir deras tanpa kejelasan kebenarannya.

Perlu dirumuskan strategi kebijakan nasional melalui kesadaran dan kedewasaan berpikir, diantaranya melalui pelatihan dan pendidikan ke sekolah-sekolah.

Dalam menghadapi revolusi industri 4.0, beberapa cara bisa diterapkan oleh pemerintah selaku pembuat keputusan (Decision Maker), Pertama, menyiapkan pelaksanaan pendidikan yang link and match antara sumber daya manusia dan kebutuhan zaman di era revolusi industri.

Kedua,selain menyiapkan pendidikan yang link and match, sumber daya manusia yang disiapkan juga harus dibekali dengan pendidikan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh ilmu sosial humaniora.

Ketiga, peningkatan keterlibatan industri dalam penyusunan standar dan kurikulum pendidikan dan pelatihan vokasi. Keempat, peningkatan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan termasuk magang yang berbasis kompetensi. Kelima, penguatan penyelenggaraan sistem sertifikasi profesi.

Dengan demikian proses pendidikan, pengelolaan, pembinaan, pemberdayaan dan pengawasan SDM Indonesia menjadi terarah dan berkelanjutan.

Karena, sejatinya pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Mendiknas, 2003).

Pendidikan bertanggungjawab dalam menyiapkan SDM Indonesia berdaya saing dunia. Pendidikan yang berkualitas akan berdampak pada peningkatan bidang ekonomi, sosial, politik, hukum, budaya, seni, kearifan lokal termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa Indonesia.

Sehingga, bukan tidak mungkin dengan adanya Revolusi Industri 4.0 dapat membantu Indonesia mencapai tujuan dalam Suistanable Development Goals (SDGs) dan peradaban manusia bagi kesejahteraan Bangsa Indonesia yang Inklusif, Universal dan Partisipatif.

Disclaimer: Tulisan ini adalah kiriman pembaca tribunpekanbaru.com, judul, foto, dan isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: Muhammad Ridho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved