Seluruh PNS dan Sekolah di Lhokseumawe Kini Wajib Berbahasa Aceh

Selain berbicara sehari-hari, surat-menyurat untuk internal juga harus menggunakan bahasa Aceh. Bahkan saat upacara pun menggunakan bahasa Aceh.

Seluruh PNS dan Sekolah di Lhokseumawe Kini Wajib Berbahasa Aceh
Serambi Indonesia
Surat berbahasa Aceh untuk pertama kali dikeluarkan sebuah kecamatan di Aceh, Jumat (30/8). 

tribunpekanbaru.com - Pemerintah Kota Lhokseumawe pada Jumat (30/8) mulai memberlakukan edaran terkait wajib berbahasa Aceh, di lingkungan kantor dan lingkungan sekolah. Termasuk untuk surat menyurat yang bersifat internal, juga harus menggunakan bahasa Aceh.

Dengan diberlakukannya edaran tersebut, wartawan Serambi Indonesia (Tribun Network) sekitar pukul 10.00 WIB WIB Jumat (30/8) mencoba melakukan penelusuran dengan mendatangi Kantor Wali Kota Lhokseumawe.

Di bagian depan kantor, sempat bertemu dengan sejumlah pegawai. Terdengar memang mereka berbicara dengan bahasa Aceh, kebetulan itu memang bahasa ibu para PNS tersebut.

Saat Serambi sempat mencoba menegur dengan bahasa Indonesia, maka secara spontan salah satu dari mereka menyanggah agar menggunakan bahasa Aceh.

"Peugah haba uroe nyoe wajeb bahasa Aceh (berbicara hari ini wajib dengan bahasa Aceh)," ujar pria tersebut.

Selanjutnya, Serambi sempat masuk ke sejumlah ruangan di kantor tersebut, seperti Kehumasan, Kesra, dan sejumlah ruangan lainnya. Terdengar para PNS dan pegawai lainnya juga mulai berbicara dengan bahasa Aceh.

Sempat bertemu dengan seorang pegawai yang bahasa ibunya bukan bahasa Aceh, maka Serambi mencoba menegur dengan bahasa Aceh. Maka dengan tersenyum dan sedikit malu-malu, dia mulai menjawab dengan bahasa Aceh dengan logat khasnya.

Selain percakapan sehari-hari, upacara pada Jumat (30/8) pagi di halaman Kantor Wali Kota Lhokseumawe, pemimpin upacaranya juga memberikan arahan dengan menggunakan bahasa Aceh.

Sebelumnya, imbauan agar menggunakan bahasa Aceh disampaikan Wali Kota Lhokseumawe melalui surat edaran nomor 050/33, yang sudah disebarkan kepada seluruh jajaran pemerintahan di Kota Lhokseumawe, hingga sampai ke lembaga pendidikan dan para Keuchik (Kepala Desa).

Isi surat edaramn tersebut adalah untuk membiasakan dan membudayakan pengunaan bahasa Aceh, yang merupakan unsur utama kebudayaan daerah.

Dalam surat edaran itu disebutkan, penggunaan bahasa Aceh bukan hanya dalam percakapan lisan, namun juga tulisan khususnya pada surat-menyurat yang bersifat internal pada setiap hari Jumat.

Selain itu, penggunaan bahasa Aceh juga diterapkan pada kegiatan belajar mengajar pendidikan bahasa, sastra, dan budaya Aceh, bagi peserta didik di setiap jenjang dan satuan pendidikan formal dan pendidikan nonformal, sesuai dengan kurikulum muatan lokal.

Terakhir, bagi aparatur pemerintah daerah, pimpinan dan anggota DPRK, para Keuchik, Imum Mukim serta perangkat desa, pendidik, dan peserta didik yang selain bahasa ibunya Bahasa Aceh, maka diharapkan agar dapat menyesuaikan. (rin/serambi)

Penulis: rinaldi
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved