Berita Riau

NEWS VIDEO: Polda Riau Tangani 40 Kasus Kebakaran Hutan dan Lahan, Satu Korporasi jadi Tersangka

Sepanjang tahun 2019 ini, hingga awal September, jajaran Polda Riau sudah menangani 40 kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Sepanjang tahun 2019 ini, hingga awal September, jajaran Polda Riau sudah menangani 40 kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto menyebutkan, penanganan kasus tersebar di seluruh jajaran Polres.

"Untuk kasus Karhutla di jajaran Polda Riau sampai hari ini ada 40 kasus, yang tersebar di seluruh jajaran. 1 korporasi dan 39 kasus perorangan," katanya saat diwawancarai, Senin (2/8/2019).

Dia melanjutkan, dari 39 kasus perorangan, jumlah tersangkanya mencapai 41 orang.

Dari total 40 kasus, yang masuk tahap penyidikan ada 24 kasus. Kemudian tahap I sebanyak satu kasus, dan tahap II sebanyak 13 kasus.

Sementara untuk kasus korporasi, pihak kepolisian terus melakukan pendalaman dengan memeriksa saksi, guna menentukan siapa yang bertanggungjawab.

Baca: Komentari Karhutla, Luna Maya Disemprot Kemen LHK: Dia Gak Lihat Manggala Meninggal Padamkan Api

Baca: PT SSS Resmi Tersangka, Inilah 4 Perusahaan di Pelalawan Riau yang Pernah Terjerat Kasus Karhutla

Baca: Istri di Riau Habisi Suami Lewat Pembunuh Bayaran, Kini Terancam Hukuman Mati di Sidang PN Bengkalis

Sunarto menyebutkan, adapun total luas lahan yang dibakar oleh pelaku, mencapai 489,755 hektare lebih.

Adapun yang paling banyak menanganj kasus Karhutla, yaitu Polres Dumai dengan 8 kasus, disusul Polres Bengkalis 6 kasus, serta Polres Pelalawan dan Polres Rohil masing-masing 4 kasus.

"Untuk yang (Polres) lain ada yang 2 kasus, ada yang 1 kasus," tuturnya.

Dia menambahkan, untuk kasus korporasi yakni PT SSS, polisi sudah memeriksa 18 saksi.

Dia menyatakan penyidik masih membutuhkan keterangan saksi ahli untuk melengkapi proses pemberkasan.

"Ke depan kita membutuhkan saksi ahli. Diantaranya dari Dinas Perkebunan Pelalawan dan Provinsi, BPN, ahli kerusakan lingkungan dan pidana lingkungan," tandasnya.(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

Penulis: Rizky Armanda
Editor: David Tobing
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved