Siak

Pengakuan Istri Suruh 2 Eksekutor Bunuh Suaminya di Siak, Riau, 'Dia Sudah Terlalu Menyakiti Hatiku'

Istri Suruh 2 Eksekutor Bunuh Suaminya di Siak Provinsi Riau, 'Dia Sudah Terlalu Menyakiti Hatiku'

Pengakuan Istri Suruh 2 Eksekutor Bunuh Suaminya di Siak, Riau, 'Dia Sudah Terlalu Menyakiti Hatiku'
Istimewa
Petugas medis Puskesmas Sungai Apit berupaya memberikan pertolongan kepada korban penganiayaan sebelum korban meninggal Sabtu (31/8/2019) pagi. 
TRIBUNSIAK.COM, SIAK - Sinde Silitonga (45), warga KM 6 RT 12 RW 05 Kampung Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau mengaku tidak menyesal setelah suaminya, Marison Simaremare tewas dibunuh orang suruhannya.
Meski awalnya niat Sinde hanya untuk memberikan pelajaran kepada Marison agar tidak jahat.
"Gimalah ya, sudah habis penyesalanku sekarang. Dia itu sudah terlalu menyakiti hatiku dan selalu kasar padaku," kata Sinde, Rabu (4/9/2019) di Mapolres Siak.
Sinde menceritakan perjalanan hidupnya dengan Marison. Pada Oktober 2019 mendatang merupakan bulan aniversary pernikahannya yang kedua bersama Marison.
Namun selama 1 tahun 8 bulan menjalani biduk rumahtangga, Sinde merasa tertekan dan makanhati. Ditambah lagi dengan adanya informasi suaminya bakalan rujuk dengan istri lamanya.
"Hampir tiap minggu kami berkelahi. Pernah saya dipukulnya lalu saya gelengkan kepala saya jadi tidak kena," kata dia.
Saat Sinde ingin minta dijemput dari tempat kerja untuk pulang kerja ke rumah, Marison selalu menjawab dengan cara tidak mengenakkannya.
Bahkan Marison juga sempat menyebut gampang bagi dia mendapatkan perempuan lain.
"Dia jawab, ah, bukan ojek-ojekmu aku. Dia bilang 10 orang perempuan bisa didapatnya semalam. Lalu aku jawab,  apalah artinya kau nikahi aku Bang, kau telah menyakiti hati perempuan Bang, kataku," cerita Sinde kepada wartawan.
Karena tidak tahan dengan perlakuan Sinde, ia mencoba bercerita dengan Roberto Manulang dan Aferlinus Hia.
Ia sampaikan kepada kedua orang itu agar memberi pelajaran kepada suaminya sendiri.
Akhirnya mereka melakukannya dan membawa broti untuk memukul kakinya.
"Sebenarnya tidak ada niat membunuh, hanya ingin melumpuhkannya di bagian kaki. Tapi entah apalah orang itu tak berlampu, sampai kejadian begini. Padahal aku hanya ingin dia berubah setelah dikasih pelajaran," kata dia.
Waka Polres Siak Kompol Abdullah Hariri mengatakan, terhadap tersangka kasus penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal ini diterapkan pasal 353 KUPidana ayat 3, Pasal 351 KUPidana Ayat 3 dan pencurian dengan kekerasan  Pasal 365 KUHPidana.
Terhadap pelaku Roberto Manullang dan Aferlus Hia diterapkan Pasal 353 KUPidana ayat (3) atau pasal 351 KUPidana ayat (3) dan pasal 365 KHUPidana Sedangkan untuk tersangka Sinde Silitonga diterapkan Pasal 353 KUPidana ayat (3) atau pasal 351 KUPidana ayat (3) dan pasal 365 KHUPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke 2 KUPidana.
Sami tersangka Sinde, Marison Simaremare menghembuskan nafas terakhirnya, Sabtu (31/8/2019) pukul 07.30 WIB di Puskesmas Sungai Apit. Ia dianiaya hingga tewas oleh orang suruhan istrinya sendiri, yakni Roberto Manulang dan Linus Harefa, Sabtu dini hari.
Saat itu, Korban bersama istrinya tidur di rumah jaga samping rumah walet milik Kopyo,  KM 6 RT 12 RW 05 Kampung Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau.  Istri korban mendengar ada orang yang masuk ke dalam kamar dan mendengar ada seperti suara pukulan. Pada saat itu suasana gelap karena mesin lampu dalam keadaan rusak. 
Kemudian istri korban melarikan diri menuju tempat anak-anak mereka tidur. Lalu berlari ke luar rumah dengan anak-anaknya ke arah pohon sawit. Setelah tak beberapa lama istri mendengar suara korban meminta tolong.
Istri korban menuju sumber suara,  ternyata korban sudah berada di parit dengan keadaan korban sudah ada luka seperti bekas bacok di kepala dan kaki.
Setelah itu korban dilarikan ke Puskesmas untuk dilakukan pertolongan pertama. Karena luka korban sudah terlalu berat, pada Sabtu pagi nyawa korban tidak tertolong.
Kasat Reskrim Polres Siak AKP M Faizal Ramzani memerintahkan Tim Opsnal Sat Reskrim untuk membackup Unit Reskrim Polsek Sungai Apit dalam melakukan penyelidikan. Tim gabungan itu berhasil mengamankan pelaku pertama atas nama Roberto Manulang.
"Setelah dilakukan penangkapan terhadap 1 pelaku, kemudian dilakukan interogasi, pelaku mengakui perbuatannya yakni melakukan penganiayaan terhadap korban yakni Marison Simaremare," kata dia.
Pelaku pertama itu juga mengakui, ia melakukan perbuatan tersebut bersama rekannya Linus Harefa.
Pada Minggu (1/9/2019)  pukul 02.00 WIB, tim Opsnal berhasil menangkap pelaku Linus Harefa. Waktu itu, Linus Harefa berada di Km 25 Bari-bari, kecamatan Pusako dalam keadaan mabuk tuak.
"Pelaku kedua ditangkap tanpa ada perlawanan. Ia diamankan oleh Tim Gabungan di tempat istirahatnya,  tepatnya di camp PT HL Km 25 Bari-bari Kecamatan Pusako, dalam keadaan mabuk minuman tuak," tambah Bripka Dedek.
Pelaku kedua mengakui perbuatannya. Ia bersama Berto Manulang diduga telah melakukan tindak pidana bersama - sama melakukan penganiayaan yang menyebabkan meninggalnya orang.
Kedua pelaku pun dibawa ke Mapolres Siak. Setelah dilakukan interogasi, kedua pelaku mengakui, mereka disuruh oleh istri korban. Istri korban memberi  imbalan untuk kedua pelaku Rp 100 ribu.
Sinde Silitonga ditangkap Polres Siak, Minggu (1/9/2019) di Lipat Kain, Kabupaten Kampar, Riau. Ia terbukti sebagai otak pelaku pembunuhan terhadap suaminya sendiri.(tribunsiak.com/mayonal putra)
 
Penulis: Mayonal Putra
Editor: Budi Rahmat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved