Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Udara Kota Palembang Tidak Sehat, BMKG Sebut Mengandung Partikel Kering

Kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang mengandung banyak partikel hasil kebakaran hutan yang berbahaya bagi kesehatan.

Penulis: rinaldi | Editor: rinaldi
Tribun Pekanbaru/Johanes Wowor Tanjung
Ilustrasi Kabut Asap 

tribunpekanbaru.com - Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), asap mulai mendominasi cuaca di Kota Palembang, Sumatra Selatan. Akibatnya, kualitas udara semakin tidak sehat.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Bambang Benny Setiajidi mengatakan, asap yang mengandung partikel-partikel kering menyebabkan jarak pandang berkisar 1.000-8.000 meter, dengan jarak pandang terendah pukul 06.00 WIB.

"Selain mengurangi jarak pandang, asap juga akan menimbulkan bau yang khas, perih di mata, sesak pada pernafasan, dan matahari terlihat berwarna jingga kemerahan saat sore hari disebabkan pembiasan cahaya matahari oleh polutan di atmosfer," ujar Benny, Selasa (10/9).

Berdasarkan pengamatan cuaca di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang selama kurun waktu 24 Jam pada 9 September 2019, pihaknya mendapati kondisi cuaca didominasi kriteria asap dengan kelembaban antara 45-95 persen, temperatur udara antara 23-35 derajat celcius, dan angin dari tenggara dengan kecepatan 5-20 knots (9-37 km/jam).

Menurut dia, asap masuk ke Kota Palembang akibat dibawa oleh angin dari arah tenggara wilayah yang memiliki titik-titik panas dengan tingkat kepercayaan lebih dari 80 persen. "Wilayah yang berkontribusi mengirim asapnyakni Air Sugihan, Pampangan, Banyuasin I, Tulung Selapan, Pedamaran, Cengal dan Pematang Panggang," jelasnya.

Kondisi tersebut menyebabkan kualitas udara (PM 10) berada pada level 180-187 µgram/m3 atau terindikasi tidak sehat pada Selasa kemarin. "Diprakirakan kondisi asap ini akan terus berlangsung di wilayah Kota Palembang dan sekitarnya hingga padamnya titik-titik panas," kata Benny.

Satgas Karhutla
Sementara itu, Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Sumsel terus patroli sekaligus melakukan pemadaman. Satgas ini berisi gabungan TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, serta unsur terkait lainnya.

"Memaksimalkan pencegahan dan pemadaman bila terjadi karhutla," kata Kapendam II/Sriwijaya, Kolonel (Inf) Djohan Darmawan dalam keterangan tertulisnya di Palembang, Selasa (10/9).

Dikatakan, ada tujuh unit helikopter dikerahkan untuk melakukan bom air di daerah yang hingga saat ini masih terjadi karhutla.

Selain melalui udara dengan bom air, pemadaman juga dilakukan melalui darat. Di antaranya dengan membuat sekat kanal. "Sarana dan prasarana pemadaman seperti alat berat, mobil pemadam dan mesin pompa air turut dikerahkan," ujarnya.

Tim Satgas dibantu Babinsa dan Babinkamtibmas, juga meningkatkan patroli dan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membakar hutan dan lahan. Daerah rawan karhutla saat ini ada di Kabupaten Muara Enim, Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir (OI), dan Musirawas Utara. (rin/rol/ant)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved