Berita Riau

Ipar Ditusuk dan Jasad Dibakar,Dua Bersaudara Pelaku Pembunuhan Sadis Dituntut Penjara Seumur Hidup

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Kuansing menuntut penjara seumur hidup atas dua terdakwa kasus pembunuhan sadis di Kuansing.

Ipar Ditusuk dan Jasad Dibakar,Dua Bersaudara Pelaku Pembunuhan Sadis Dituntut Penjara Seumur Hidup
ISTIMEWA
ISTIMEWA ILUSTRASI 

TRIBUNPEKANBARU.COM, TELUK KUANTAN - Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Kuansing menuntut penjara seumur hidup atas dua terdakwa kasus pembunuhan sadis di Kuansing, Riau.

Pembacaan tuntutan sendiri dilakukan Selasa sore (10/9/2019) di Pengadilan Negeri (PN) Teluk Kuantan, Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau.

"Tuntutan kita pidana penjara seumur hidup," kata kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kuansing Hari Wibowo SH MH lewat Kasi Pidum Moch Fitri Adhy, SH.

Dua terdakwa yang dituntut penjara seumur hidup tersebut yakni Bazatulo Laia, 33 tahun dan Rasali Laila. Kedua terdakwa ini merupakan saudara kandung.

Dalam kasus ini, Iwan Halawa, 35 tahun menjadi korban. Korban sendiri merupakan ipar kedua terdakwa.

Persidangan dipimpin majelis hakim terdiri dari Reza Himawan Pratama SH, M.Hum, Rina Lestari br Sembiring SH MH dan Duano Aghaka SH.

Kedua terdakwa dikenakan pasal Pasal 340 KUHP Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Keduanya disangka melakukan pembunuhan berencana.

Dalam kasus ini, terdakwa Rasali Laila turut serta bersama Bazatulo Laia menghabisi nyawa korban.

Kasus pembunuhan yang dituduhkan kepada dua terdakwa cukup sadis. Korban dipukul pakai kayu dan ditusuk. Setelah itu, jasad korban dibakar di kebun karet di Desa Jake, Kecamatan Kuantan Tengah, Kuansing.

Setelah membakar jasad korban, kemudian tulang-tulang jasad korban dimasukkan ke dalam kantong beras dan dikubur ke dalam tanah.

Kejadian tersebut terjadi Desember 2018. Kedua terdakwa berhasil diamankan Polres Kuansing pada Januari 2019.

Kasus ini terungkap setelah istri korban, Delima Laia, 25 tahun membuat laporan ke Polres Kuansing suaminya hilang sejak Desember 2018.

Pelaporan dilakukan karena istri korban melihat ponsel suaminya ada di tangan terdakwa Bazatulo Laia.

Pengakuan terdakwa, pembunuhan dilakukan karena rasa sakit hati. Korban disebut akan menjual anak terdakwa ke orang lain. (Tribunpekanbaru.com/dian maja palti siahaan)

Penulis: Dian Maja Palti Siahaan
Editor: Nurul Qomariah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved