Citizen Report

Menuju Pariwisata sebagai Sektor Ekonomi Bangsa: Dari Wisata Halal Menjadi Muslim Friendly

Pemerintah Indonesia memang sedang gencar-gencarnya memperkenalkan wisata halal ke dunia.

Menuju Pariwisata sebagai Sektor Ekonomi Bangsa: Dari Wisata Halal Menjadi Muslim Friendly
Firmauli Sihaloho
Pemandangan Danau Toba dari Menara Pandang Tele, Sumatera Utara 

Menuju Pariwisata sebagai Sektor Ekonomi Bangsa: Dari Wisata Halal Menjadi Muslim Friendly

Oleh Firmauli Sihaloho

TRIBUNPEKANBARU.COM - Awal September lalu, isu penerapan wisata halal di Danau Toba menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Terlebih di media sosial. Masyarakat terbelah menjadi dua kubu, antara yang mendukung dengan yang menolak.

Mereka yang mendukung menyatakan perlu diterapkan wisata halal, mengingat Pulau Samosir dan beberapa daerah wisata di pesisir Danau Toba mayoritas beragama kristen. Sementara yang menolak beranggapan wisata halal akan menggerus eksistensi budaya yang ada di sana. Selain itu, mereka menyatakan selama ini tak ada masalah, sebab Mesjid maupun restoran halal mudah dijumpai jika berkunjung ke Danau Toba.

Sejatinya, wisata halal merupakan suatu upaya pemerintah mengakomodir kebutuhan wisatawan muslim yang mempunyai beberapa kekhususan, seperti makanan halal. Wisata halal biasanya diterapkan di negara muslim.

Sementara di Indonesia yang merupakan salah satu negara muslim terbesar di dunia, memiliki beberapa daerah destinasi wisata yang dihuni masyarakat non muslim, seperti Danau Toba dan Bali.

Pemerintah Indonesia memang sedang gencar-gencarnya memperkenalkan wisata halal ke dunia. Pada 2018 lalu, pertumbuhan pasar pariwisata halal Indonesia mencapai 18%, dengan jumlah wisatawan muslim (wislim) mancanegara yang berkunjung ke destinasi wisata halal prioritas Indonesia mencapai 2,8 juta dengan devisa mencapai lebih dari Rp 40 triliun.

Pada 2019 ini, Kementerian Pariwisata menargetkan 25% atau setara 5 juta wisatawan muslim dari target jumlah kedatangan wisatawan mancanegara sebesar 20 juta.

Pasar bagi wisatawan muslim kian bernilai dan potensial untuk terus dikembangkan. Berdasarkan sebuah laporan perusahaan informasi, Thomson Reuters, pada tahun 2014 umat Muslim dari seluruh dunia menghabiskan USD142 miliar untuk perjalanan (tidak termasuk Haji dan Umrah).

Sebagai perbandingan, para pelancong dari Tiongkok menghabiskan USD160 miliar untuk perjalanan di tahun 2014, sementara para pelancong AS menghabiskan USD143 miliar. Dengan demikian menempatkan sektor perjalanan Muslim di tempat ketiga dalam pengeluaran perjalanan global dan menyumbang 11 persen dari total pengeluaran.

Halaman
123
Editor: Muhammad Ridho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved