Citizen Report

Menuju Pariwisata sebagai Sektor Ekonomi Bangsa: Dari Wisata Halal Menjadi Muslim Friendly

Pemerintah Indonesia memang sedang gencar-gencarnya memperkenalkan wisata halal ke dunia.

Menuju Pariwisata sebagai Sektor Ekonomi Bangsa: Dari Wisata Halal Menjadi Muslim Friendly
Firmauli Sihaloho
Pemandangan Danau Toba dari Menara Pandang Tele, Sumatera Utara 

Mengacu pada Global Muslim Travel Index  (GMTI), pertumbuhan wisatawan muslim akan terus tumbuh sekitar 6 persen dengan  jumlah wisatawan muslim dunia pada 2020 mencapai 158 juta dengan total pembelanjaan sebesar USD220 miliar atau setara Rp3.080 triliun. Pertumbuhan tersebut diharapkan terus meningkat menjadi USD300 miliar atau setara Rp4.200 triliun pada 2026.

Menilik tujuan dari wisata halal memang tidak ada masalah. Selain itu, pelabelan wisata halal ini juga bisa merangsang ketertarikan wisatawan muslim dunia untuk mengunjungi Indonesia.

Akan tetapi, berangkat dari hiruk pikuk wisata halal yang kerap jadi kontroversi, tentu pemerintah harus segera mencari solusi supaya penerapan tersebut tidak menimbulkan konflik opini pada masyarakat di waktu yang mendatang.

Baca: Temui Mahasiswa yang Demo, Gubri Syamsuar Sebut Satgas Karhutla Riau Sudah Bekerja Maksimal

Baca: Asap Makin Pekat, Siswa-siswi di Sejumlah Sekolah Kepulauan Meranti Dipulangkan Lebih Awal

Wisata Halal vs Muslim Friendly

Terminologi wisata halal sepertinya kurang relevan digunakan untuk pariwisata di Indonesia. Pandangan kebanyakan awam terkait wisata halal ini adalah men-syariahkan suatu lokasi wisata.

Artinya, destinasi wisata itu harus secure terhadap segala sesuatu yang bertentangan dengan hukum-hukum islam. Seperti alkohol, berpakaian terbuka atau seksi hingga restoran yang menyajikan makanan non halal.

Wisata halal turut mengundang kontroversi karena antonim dari istilah ini adalah wisata haram. Tentu penggunaan istilah yang kurang elok diperdengarkan bagi masyarakat.

Disamping itu, berdasarkan penelusuran di mesin pencarian Google, kata kunci halal tourism sebanyak 33.400.000 pencarian. Sementara kata Muslim Friendly seperti yang digunakan Pariwisata Malaysia mencapai 185.000.000 pencarian.

Perbandingan kedua kata kunci ini hampir lima kali lipat. Temuan seperti ini harus segera diperhatikan mengingat salah satu prilaku wisatawan sebelum mengunjungi suatu destinasi ialah melakukan survei melalui internet.

Traveller Muslim asal Bulgaria, Elena Nikolova yang telah mengunjungi lebih dari 30 negara ini menyoroti perkembangan destinasi wisata bagi umat muslim. Elena menyebut tidak ada satupun negara yang benar-benar menerapkan wisata halal. Wisata halal masih sangat muda, sehingga lebih baik mengembangkan istilah yang masyarakat umum tahu dan mudah untuk memahaminya.

Baca: Kelompok Dosen Universitas Riau Resmikan Bank Sampah di Buluh Cina, Mulai Kini Sudah Beroperasi

Baca: Gejolak KPK Makin Memanas, Novel Baswedan: Ada Persekongkolan Para Pejabat Hancurkan KPK

Halaman
123
Editor: Muhammad Ridho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved