Citizen Report

Menuju Pariwisata sebagai Sektor Ekonomi Bangsa: Dari Wisata Halal Menjadi Muslim Friendly

Pemerintah Indonesia memang sedang gencar-gencarnya memperkenalkan wisata halal ke dunia.

Menuju Pariwisata sebagai Sektor Ekonomi Bangsa: Dari Wisata Halal Menjadi Muslim Friendly
Firmauli Sihaloho
Pemandangan Danau Toba dari Menara Pandang Tele, Sumatera Utara 

Wanita pertama yang mengantongi Chartered Islamic Marketer (CIMA) di Inggris ini berpendapat Generasi Millenial dan Z yang beragama Islam menjadi lebih sadar akan manfaat perjalanan yang ramah terhadap Muslim.

Mereka menjelajahi negara-negara dan kota-kota yang tidak didominasi Muslim, namun mereka memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kepercayaan mereka di tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi tanpa pembatasan halal.

“When we go out of our comfort zone and travel to non-Muslim countries in a Muslim-friendly travel holiday we represent Muslims, we break barriers, we explore and meet people who know we are Muslims and the stereotype gets removed. We grow in our love for Islam and are representatives of our religion for the fellow travellers and locals we meet. It is so much deeper than just the obligations of Muslims,” muslimtravelgirl.com (29/04/2019).

Pariwisata Penyumbang Devisa Terbesar

Data pada tahun 2018 menunjukkan sektor pariwisata menjelma menjadi penyumbang devisa terbesar nomor dua setelah sawit. Pariwisata menyumbang USD 15 miliar, sementara minyak sawit mentah (CPO) mencapai USD 17 miliar. Di tahun 2019 ini, pemerintah menaikkan target menjadi USD 20 miliar.

Guna mencapai target itu, pemerintah terus menggenjot pembangunan infrastruktur pariwisata, salah satunya ialah program 5 Destinasi Super Prioritas. Dana segar bernilai fantastis Rp 9,35 triliun digelontorkan kepada 5 daerah tersebut, mulai Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo hingga Likupang.

Usaha yang dilakukan pemerintah ini patut didukung oleh segenap lapisan masyarakat, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah destinasi wisata. Kunjungan wisatawan nyatanya turut membantu perekonomian masyarakat.

Meski begitu, pemerintah juga harus memperhatikan tingkat pemahaman masyarakat terhadap berbagai program pariwisata ini. Jangan sampai akibat ketidaktahuan, masyarakat melakukan penolakan terhadap program tersebut.

Pemerintah harus terus menggencarkan sosialiasi kepada masyarakat umum, tidak hanya para pelaku wisata saja. Kemudian Penggunaan istilah wisata halal juga sepatutnya direvisi agar kejadian seperti di Danau Toba tidak terjadi lagi dikemudian hari.

Editor: Muhammad Ridho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved