Harga TBS Sawit Riau Naik 0,44 Persen

Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Riau kembali mengalami kenaikan. Untuk periode 9-15 Oktober 2019, harga TBS Kelapa Sawit kelompok umur 1

Harga TBS Sawit Riau Naik 0,44 Persen
Tribun Pekanbaru/Fernando Sikumbang
Sejumlah truk pengangkut TBS Sawit . 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Riau kembali mengalami kenaikan. Untuk periode 9-15 Oktober 2019, harga TBS Kelapa Sawit kelompok umur 10 - 20 tahun mengalami kenaikan sebesar Rp 6,29 per kilogram (Kg).

Kasi Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Provinsi Riau, Tengku Neni Mega Ayu mengatakan, kenaikan terbesar ada pada kelompok umur 10 - 20 tahun sebesar Rp 6,29 per kilogram atau 0,44 persen dari harga minggu lalu.

Atas kenaikan itu maka harga TBS kelapa sawit saat ini menjadi Rp 1.421,74 per kilogram. "Kenaikan harga TBS ini disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal," ujar Tengku Neni, Selasa (8/10/2019).

Untuk faktor internal kata Tengku Neni, kenaikan harga TBS periode ini disebabkan oleh kenaikan harga jual CPO dan Kernel dari seluruh perusahaan yang menjadi sumber data.

"Untuk harga jual CPO, PTPN V mengalami kenaikan sebesar Rp 120,17/Kg, Sinar Mas Group mengalami kenaikan harga sebesar Rp 95,00/Kg, Astra Agro Lestari Group mengalami kenaikan harga sebesar Rp 185,46/Kg, dan Asian Agri Group mengalami kenaikan sebesar Rp 95,12/Kg dari harga minggu lalu," ucap Tengku Neni.

Sedangkan untuk harga jual kernel, jelasnya, Astra Agro Lestari Group mengalami kenaikan sebesar Rp 20,00/Kg, dan Asian Agri Group mengalami kenaikan sebesar Rp 86,00/Kg dari harga minggu lalu.

Sementara itu untuk faktor eksternal yang mempengaruhi kenaikan harga TBS periode ini adalah adanya sentimen positif yang mengerek harga naik di antaranya adalah perbaikan permintaan dan penurunan produksi.

Kemudian walau nilai ekspor masih turun namun perbaikan dari sisi permintaan jadi angin segar untuk harga CPO. Malaysia dan Indonesia sebagai negara produsen sawit terbesar di dunia juga terus menggenjot program B20.

Selain program tersebut tambah Tengku Neni, pernyataan duta besar Perancis untuk Malaysia, Frederic Laplanche yang menyatakan bahwa Eropa masih sangat terbuka dengan produk minyak sawit juga turut menghembuskan angin segar.

Dari sisi produksi, kekeringan yang melanda Asia Tenggara pada Agustus-September diprediksi akan menyebabkan penurunan produksi di Indonesia dan Malaysia dalam jangka pendek dan menengah.

"Kekeringan yang terjadi akhir-akhir ini diakibatkan oleh fenomena El Nino yang menyebabkan pemanasan perairan di Samudra Pasifik Timur, membawa cuaca kering di Asia Tenggara," ungkap Tengku Neni. (rsy)

Penulis: Rino Syahril
Editor: kasri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved