Berita Riau

Picu Kanker dan Sudah Dilarang Beredar, Obat Lambung Ranitidin Ternyata Masih Beredar di Riau

Obat lambung merek Renitidin ternyata masih beredar di Riau. Padahal obat tersebut dilarang untuk diedarkan.

Picu Kanker dan Sudah Dilarang Beredar, Obat Lambung Ranitidin Ternyata Masih Beredar di Riau
Shutterstock
Ilustrasi 

Picu Kanker dan Sudah Dilarang Beredar, Obat Lambung Ranitidin Ternyata Masih Beredar di Riau

TRIBUNPEKANBARU.COM - Meski sudah dilarang beredar di tengah masyarakat oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, namun obat lambung merek Ranitidin ternyata masih beredar di Riau.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, Rabu (9/10/2019) tidak menapik jika obat lambung yang dilarang beredar oleh BPOM tersebut masih dijual bebas di apotek-apotek yang ada di Riau.

Meskipun pihaknya sudah mengetahui adanya informasi soal larangan Ranitidin tersebut dilarang untuk diedarkan.

"Di Riau (Ranitidin) masih (beredar), itu nanti balai pom yang akan turun melakukan penarikan ke sarana pelayanan kesehatan,"kata Mimi soal larangan peredaran obat lambung tersebut di tengah masyarakat.

Baca: Pengamat Media Sosial Ungkap Peran Media Mainstream Populerkan Buzzer, Harusnya Berisi 3 Kicauan

"Untuk penarikan, ada yang balai POM langsung yang melakukan penarikan, tapi ada juga apotek itu sendiri yang akan mengumpulkan dan mengembalikan ke tempat mereka membeli," imbuhnya.

Mimi menambahkan, terhadap penarikan obat itu memang ranah BPOM. Pihak apotek sendiri setelah melakukan pengumpulan obat merek Ranitidine itu dibuktikan dengan berita acara penarikan yang diserahkan ke BPOM.

"Kami akan sampaikan himbauan juga nanti ke apotek-apotek untuk tidak lagi menjual obat yang sudah dilarang oleh BPOM itu," katanya.

Ranitidin Injeksi 25 mg/mL
Ranitidin Injeksi 25 mg/mL (Bukalapak)

Pihaknya sudah meminta kepada apotek untuk melakukan penarikan terhadap obat lambung merek Ranitidine. Obat ini dilarang beredar di tengah masyarakat setelah BPOM menarik peredaran obat tersebut dengan alasan pemicu kanker.

"Kami mengimbau kepada apotek untuk menarik obatnya dan dikembalikan ke pihak penyuplai. Kemudian kepada masyarakat kami juga mengimbau agar lebih berhati-hati untuk tidak mengkonsumsi obat lambung jenis ini," kata Mimi.

Baca: STORY - Akhir Tragis Gajah Dita, Solvarina: Mari Kita Saling Berbagi dengan Makhluk Tuhan Lainnya

Saat disinggung terkait bahaya obat tersebut yang dapat menjadi pemicu kanker, Mimin enggan mengomentarinya.

"Kalau terhadap informasi pemicu kanker itu kita tidak bisa mengeluarkan pernyataan karena memang harus ada kajian ilmiahnya. Tapi terhadap apa yang telah dikeluarkan oleh BPOM ya harus dipatuhi oleh pihak-pihak penyedia obat," sebut Mimi.

BPOM mengeluarkan surat perintah penarikan maupun penarikan sukarela pada 5 obat yang diduga mengandung N-Nitrosodimethylamine (NDMA). NDMA merupakan salah satu senyawa yang berpotensi memicu kanker.

Baca: Longsor Cianjur, Jasad Suami Ditemukan dalam Kondisi Memeluk Jasad Istrinya

Surat edaran penarikan ranitidin ini merupakan bentuk dari Badan Kesehatan Amerika, US Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicine Agency (EMA) yang mengindikasi bahwa obat tersebut terdapat cemaran NDMA.

Mengutip dari laman resmi BPOM, studi global memutuskan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari (acceptable daily intake), bersifat karsinogenik jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. (Syaiful Misgiono)

Penulis: Syaiful Misgio
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved